Archive for the 'Obituary' Category

The August Deep Sorrow

WS Rendra (Left) and Mbah SuripI think all people in this world will agree when I say death and sorrow always be missing you in every tomorrow. Yeps, look at the first week of this August. Indonesia surprisingly has lost two famous artist named Mbah Surip and WS Rendra at such a near future. Mbah Surip’s career cut shockingly short due to the heart failure in the age of 60. Meanwhile, renowned Indonesian poet W.S. Rendra, died at a hospital last night after undergoing treatment for a month for conorary heart disease in the age of 74. It’s been really hard to loose at the drop of a hat, but it’s been a God’s fate. Both two of them have wonderful stories during their life until their doom.

Continue reading ‘The August Deep Sorrow’

Paris Broke Down in Tears

“…ever since I was born, Daddy has been the best father you could ever imagine. And I just want to say I love him so much.” —Paris Katherine Jackson

At the end of the Jackson’s memorial service, she joined the singers on stage, along with her brothers, and sang the chorus in “We Are the World” and “Heal the World”. Paris the late Thriller stars second child joined the late pop icons siblings on stage at Los Angeles Staples Center on Tuesday to pay an emotional tribute to her father.

That almost made me cry so much when Paris talked, it was so sad ! Poor little girl ! She was so brave to go up on that stage. I think Michael was the best father she could ever have. My heart goes out to his family, especially his children who didn’t deserve to loose their father at such a young age. They have the support for their family to help get them through this difficult time.

Continue reading ‘Paris Broke Down in Tears’

In Obituary: Michael Jackson (1958 – 2009)

“…You’re not here with me
You never said goodbye
Someone tell me why…
Did you have to go and leave my world so cold…”
Michael Jackson – You’re not Alone

Michael Jackson

Two days ago, I was aghast when this article revealed Michael Jackson’s death after collapsed at his rented mansion at Los Angeles. Many people sent their condolences to his gone and then it’s triggered an outpouring of grief around the world, slowing down Internet traffic and causing his album sales to soar. Jacko was noted to have already been in cardiac arrest by the paramedics who attended his house.
Well, Jacko’s death was very tragic for me. Here, he was a great performer and had wonderful talents to perform his creation. I always recognize him and his role as the king of pop. That’s it, he’s a legend! People will never forget his physically complicated dance techniques, such as the robot and the moonwalk in which he appeared to slide backwards across the surface of the stage. Continue reading ‘In Obituary: Michael Jackson (1958 – 2009)’

Float Like The Breeze

“Look at me
I’m floating like the breeze
With my roots strong like trees”
Dark Lotus – I Wanna Die

Tiga hari yang lalu, saya sempat mendengarkan alunan lagu Dark Lotus yang bertajuk I Wanna Die di Sentra Bokep, Pocin, disela-sela kekurang-tiduran saya selama hampir 2 minggu terakhir karena tengah di “training” menjadi “kuli-kuli profesional”. Dan akhirnya saya terbebas sudah dari siksaan tersebut dengan akhir yang lumayan memuaskan.

Beberapa hari kemudian, betapa terkejutnya saya melihat berita di TV One kemarin sore, seorang mahasiswi Fakultas Psikologi UI angkatan 2005 mencoba bunuh diri setelah terjuan bebas dari lantai 7 Pusat Grosir Cililitan, Jakarta Selatan. Saya tidak mengenalnya dan belum pernah sekalipun bertemu dengannya kecuali (mungkin) pada saat OKK UI 2005 ketika saya menjadi project officer dari acara tersebut. Tapi kematiannya begitu tragis sehingga saya pun tertarik ingin mengetahui penyebabnya. Apalagi yang bersangkutan sudah menginjak kaki di semester tujuh. Kampus UI sendiri beberapa waktu lalu juga kehilangan tiga orang mahasiswanya akibat kecelakaan mobil di tol Cibinong.

Setelah saya coba cari di situs jaringan sosial “facebook”, akhirnya saya menemukan notes teman saya mahasiswa psikologi 2004 yang bercerita tentang kehilangan seorang teman. Korban tersebut bernama Nova Mirawati, mahasiswa Fakultas Psikologi UI 2005. Berikut adalah screenshoot dari situs yang saya buka tersebut:

Banyak yang mengatakan bahwa kematiannya adalah sebuah akhir dari kemelut masalah keluarga yang ia hadapi. Well, bunuh diri bagi sebagian orang mungkin merupakan suatu hal yang tidak masuk akal, tapi kita tidak pernah tahu bagaimana attitude si pelaku bunuh diri dalam menghadapi masalahnya. Kurva indiferensi setiap orang dalam menghadapi masalah itu berbeda-beda. Katanya, tekanan hidup yang tinggi merupakan salah satu faktor manusia membunuh dirinya sendiri selain mahalnya biaya hidup, lingkungan psikososial yang parah, kesenjangan ekonomi yang begitu besar, masalah keluarga yang rumit, serta gangguan mental berat (psikotis) yang tidak tertangani secara optimal. Kasus terakhir ini saya dengar lebih karena masalah keluarga.

Bunuh diri itu complicated, sampai sekarang saya masih miris jika melihat ada percobaan bunuh diri, terlebih kalau hal itu dilakukan semata-mata karena emosi sesaat seperti ditolak pacar. Saya berharap angka bunuh diri di Indonesia tidak sampai melebihi Lithuania, meskipun akhir-akhir ini, saya sering melihat aksi bunuh diri di media.

Semoga amal & ibadahnya diterima di sisi-Nya

Salam,


**Foto yang bersangkutan saya comot dari situs facebook

Rekaman Blackbox Adam Air, Menguak Luka Lama



Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Kemarin saya terkaget-kaget oleh sebuah berita di televisi yang membuat jutaan pasang mata di Indonesia terenyuh. Sudah cukup lama saya nggak mendengarkan berita tentang ex- maskapai yang satu ini setelah izinnya dibekukan oleh pemerintah Maret lalu. Sebuah rekaman yang konon berisi tentang pembicaraan antara pilot dan co-pilot Adam Air sebelum pesawat naas itu jatuh menghantam perairan Majene, Sulawesi Selatan beredar di Internet. Saya sendiri berhasil mendapatkan soft copy-nya setelah bertanya ke mbah google dan menemukan link ini

Entah saya harus sedih ataukah senang dengan penemuan itu. Penemuan ini sendiri masih menyisakan kontroversi atas keotentikan file aslinya. Setahu saya, dalam peraturan penerbangan internasional Anex 13 Pasal 5 Butir 12D disebutkan bahwa rekaman suara kokpit tidak boleh dipublikasikan. Hasil rekaman itu hanya boleh dimasukkan dalam laporan akhir jika berkaitan dengan analisis kecelakaan. Taruhlah file itu benar-benar otentik. Selepas saya mendengarkan audio yang terekam dalam file itu, saya benar-benar merasa bergetar dan ketakutan. Nggak terbayang jika saya adalah satu dari 96 penumpang Adam Air saat itu.

Meskipun demikian, saya jadi bingung, sebenarnya apa tujuan penyebaran file ini. Berita dari okezone mengatakan bahwa kemungkinan peserta wartawan pada acara pengenalan untuk investigator keselamatan transportasi yang dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) diduga menjadi salah satu penyebab bocornya isi rekaman kotak hitam pesawat AdamAir PK-KKW. Sementara Kompas mengatakan bahwa rekaman tersebut tidak asli dan yang asli masih tersimpan di KNKT. Ketidakotentikan file tersebut juga dibahas di Tempo. Bagi saya, penyebaran file ini memang bisa bermakna ganda. Bisa jadi merupakan bentuk ekspresi kekesalan dari sebuah oknum atas kinerja Departemen Perhubungan republik ini yang memang terkesan gagal total mengidentifikasi musibah besar yang terjadi di hari pertama tahun 2007 tersebut. Atau bisa jadi ini hanyalah sebuah blow-up media saja. Ya, kita sudah sama-sama tahu lah bahwa pemerintah sekarang sangat ahli dalam mengalihkan isu publik. Sayang, saya bukanlah orang yang mengerti bidang penerbangan atau multimedia seperti pakar pornomatika kita yang terhormat Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Nitiprodjo. Sehingga saya sendiri tak bisa menyimpulkan itu asli atau tidak.

Biarlah para wartawan tersebut berspekulasi, karena memang sudah pekerjaan mereka untuk melakukannya. Akan tetapi apapun itu, saya sangat menaruh simpati. Terutama untuk keluarga yang kehilangan sanak saudaranya akibat kasus ini. Sungguh, ini membuka kembali luka lama mereka yang telah berusaha mereka tutup rapat-rapat. Bagaimana tidak, di tengah ketidakjelasan yang ada, bukannya sebuah solusi yang muncul, malah yang muncul adalah sesuatu hal yang bisa menambah kita bersedih kembali.

Dalam hal ini, tak cukup hanyalah sebuah klarifikasi dari pemerintah, khususnya Departemen Perhubungan untuk keotentikan file ini. Pembuktian yang benar harus dilakukan untuk benar-benar meyakinkan kepada publik, baik nasional maupun internasional, dan khususnya kepada pihak keluarga yang telah kehilangan sanak saudaranya karena tragedi tersebut. Karenanya, jangan biarkan para keluarga kembali bersedih dan kesedihan ini kembali “tergantung” oleh berita simpang siur keaslian dari file tersebut. Sementara itu, apa kata Adam Suherman, pemilik Adam Air? I have no idea about it…

Berikut adalah transkrip pembicaraan file tersebur yang saya re-post dari blog ini sebagai gambaran kengerian situasi terakhir pesawat naas tersebut:

Voice on DHI 574 cockpit : ini —-

ATC : trigana 161, the surface conditions, wind 290 degrees 07 knots, current visibility about 2 until 3 kilo mike, request descent?

in the background (Adam’s pilot chatting: —- —– headingnya…..ini posisinya dia, di sono…. iya 21 mile) .

TGN 161 : say again sir?

ATC : trigana 161, visibility 2 until 3 kilo mike, surface wind 290 degrees 07 knots, runway in use runway 13, confirm ready for approach or make holding waiting for weather improvement?

TGN 161 : affirmative, we are make holding

ATC : roger, trigana 161, now fly heading… ee… two six zero expect holding on one five miles mike kilo sierra, radial three one zero mike kilo sierra…

in the background (Adam’s pilot chatting: —- —– —–, ujung pandang…. bos…. ujung pandang jelas?)

Voice on DHI 574 cockpit : aiyyah…. cuaca di mike kilo sierra (means…. Makassar… ampun deh)

TGN 161 : —-heading 260, 15 miles holding, trigana 161

Voice on DHI 574 cockpit : loh, ini DMEnya nih yah…
iya makanya juga ngaconya disitu
nah, ini mike kilo sierra
yah…

ATC : adam 574 confirm maintain heading 070 or tracking to DIOLA?

DHI 574 : affirm
mach 74 maintaining 070…

Voice on DHI 574 cockpit : Bearing 074
anginnya dah mulai normal lagi
iyah….

ATC : Syahrizal confirm? (ATC asking for pilot’s name)
selamat tahun baru mas….

DHI 574 : Gatu
ok dicopy, disampaikan nanti, Insyaallah….

Voice on DHI 574 cockpit : —- koq DMEmu beda sama DME gambarnya ini
iyah…
ngaco dia tuh brarti
dah ngaco dah emang …dah ngaco
udah mulai gambar bambu ini
udah, kita percaya ama ini aja deh…
hehehe… iyalah….

—- cewe-cewe

makanya, terlalu jauh banget
—-
___noise___

salah lagi ini dia….
—-

iya nih
coba.. tolong confirm posisi aja, confirm on radial sekian.. 124 DME gitu

(on the background, FO calling ATC)

ATC : go ahead

—- : —- —-

DHI 574 : roger… adam 574 position is 125 miles mike kilo sierra, crossing radial 307 mike kilo sierra

Voice on DHI 574 cockpit : ok….. that’s confirm… that’s confirm
affirm
iya khan.. ngaco
ngaco FIDSnya udah —-, FMSnya…
FMS telah mengacaukan dirinya sendiri… UEDANN opo…
oi terbangnya melanglang buana eh….

TGN 161 : trigana 161, maintain visibility now

ATC : standby one

Voice on DHI 574 cockpit : ini aja kep yah
coba ini.. apa.. ee.. gw pake ini aja deh untuk navnya, pake —- audio altitude
yes
yah ini aja

TGN 161 : Trigana 161 request visibility now?

ATC : standby one

TGN 161 : standby

Voice on DHI 574 cockpit : masuk ke….
fail aja
fail?
yah, vault aja nih

—-
ntar attitude (or) altitude aja nih
ada semua —- cable? (probably AM/Air Mechanic try to repair something on cockpit)
attitude (or) altitude? nggak..
yang laen…

ATC : trigana 161 the visibility 2 until 3 kilo mike and runway change, 290 degrees 08 knots

Voice on DHI 574 cockpit : (Adam’s AM: klo angin dan headingnya saja, masukin ini …)

TGN 161 : copied, trigana 161

Voice on DHI 574 cockpit : —- SELCAL dan altitude
masukin ini
heading brapa nih kep? (FO asking)
zero… zero seven nine yah (captain)
iya
masukin ini keatas

TGN 161 : trigana 161, request ILS.. visual at runway 13

ATC : trigana 161, ee.. roger make left turn now heading on zero zero one descent two thousand feet, clear ILS approach runway 13

Voice on DHI 574 cockpit : ini kep?
taro NAV lagi….

TGN 161 : trigana 161, ….descent to two thousand confirm?

(in the background, warning sound ….—-….)

ATC : affirm

Voice on DHI 574 cockpit : taro NAV lagi, taro NAV lagi….

TGN 161 : descent to two thousand, trigana 161

Voice on DHI 574 cockpit : yes?
taro NAV lagi (in the background, WARNING sound …. —- …. WARNING alarm)
taro NAV lagi
NAV!…… ok kep?
JANGAN DIBELOKIN Nih… kita —- —–
captain, captain, captain…
(WARNING sign…. ticking….)

aduh kep, kep, kep….
ya, ya…
Allahuakbar……. Allahuakbar…….. Allahuakbar…….. Allahuakbar……..

DHI 574 : Mayday…..

Voice on DHI 574 cockpit : argh…
Allahuakbar….

DHI 574 : MAYDAY… MAYDAY…!!

Voice on DHI 574 cockpit : Allahuakbar….
allahuakbar….
(…sounds like windshield kracking…)
argh…
allahuakbar….


DISCLAIMER:
Gambar saya ambil dari sini
Artikel ini saya buat bukan untuk tujuan penyebaran rekaman tersebut. Saya hanyalah menulis tentang apa yang saya ingin sampaikan. Adapun semua link yang saya refer dari blog orang lain hanyalah menunjukkan sumber data yang saya peroleh untuk kasus ini

Campaign

My Gallery

On Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

RSS The New Yorker

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS The Jakarta Post

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Blog Stats

  • 28,692 hits