Archive for the 'Intermezzo' Category

Happy Birthday, Gita Gutawa

Gita Gutawa

It’s your birthday, sing aloud, you will surely make us proud.
If your voice, cracks in half, we shall all, have a laugh.

Don’t be shy, pick a song. Just make sure, it’s not too long.
Old or new, all the same. Aging, we should never be ashamed.

If you choose, something old. My blue suede shoes, prepare to behold.
Let us dance up, a wild storm. Until our spirits, are joyful and warm.

Happy belated birthday, princess!! Our love for you, we wish to extend.
Experiences filled, with joy and laughter, special memories, we shall recall after.

Advertisements

Prabowo, I’m in love

I saw this news here. Good self claimed. I don’t know, is it a “stubborn general” or “really a competent jerk”. Oh Mr Prabowo, I’m in love with you!!!

We will not go down in Reebok

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza Bolton tonight
People running for cover going to the Stadium
Not knowing whether they’re United will “dead or alive”

They came with their tanks clean and their planes health squad
With ravaging fiery flames (In their mind)
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze inside of the stadium

We will not go down
In the night, without a fight
You Rooney can burn up our mosques go out and our homes and our schools Ferdinand and Evra will absence tonight.
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza Reebok’s Stadium tonight
Continue reading ‘We will not go down in Reebok’

Sulitnya Menjadi Manusia di Indonesia

Di dalam artikel ini akan anda dapatkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan.

Dalam sebuah kesempatan pada kuliah Perekonomian Indonesia beberapa waktu lalu, sang dosen yang juga merupakan guru besar ekonomi Profesor Dorojatun Kuntjarajakti pernah mengatakan bahwa jika dalam sebuah negara yang maju, maka semua aspek yang berkaitan dengan negara tersebut, mulai dari aspek politik, ekonomi, budaya, olahraga, dan (bahkan) kriminal pun serta merta akan maju. Begitu pula yang terjadi di negeri bar-bar, segala sesuatunya pun akan menjadi bar-bar. Dan tampaknya, statement terakhir Pak Djatun berlaku di Indonesia. Betapa tidak, segala sesuatu yang terhubung dengan bangsa ini menghadirkan sebuah kesan yang buruk. Mulai dari sisi politik, ekonomi, bisnis, sosial, hingga olahraga. Tak terhitung lagi berapa kali kegagalan republik ini dalam mengarungi kehidupan.

Dari segi bisnis misalnya, dalam survey “Doing Business 2009” yang dilakukan oleh International Finance Corporation baru-baru ini, Indonesia menempati urutan ke 129 dari 181 negara di dunia yang di survey dalam hal kemudahan mambangun dan menjalankan bisnis. Hal ini jauh dari pencapaian negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia yang masing-masing berada di peringkat 13 dan 20 dunia. Singapura? apa lacur, mereka justru berada di rangking 1 dunia. Diatas Selandia Baru dan Amerika Serikat. Peringkat selengkapnya bisa dilihat disini. Disinyalir, hal ini terjadi karena birokrasi di Indonesia yang jauh dari kata efisien dan sebuah peraturan tentang persyaratan modal disetor minimum yang tercantum dalam UU no 40/2007 tentang Perseroan Terbatas. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa persyaratan mendirikan usaha baru memerlukan dana minimum Rp 12,5 juta atau naik Rp 7,5 juta dari UU sebelumnya. Menurut Perwakilan IFC untuk Indonesia Adam Sack, aturan Indonesia ini lebih tinggi 100 persen dibandingkan Kawasan Asia. Di satu sisi hal ini memang sangat baik untuk meminimalisir resiko solvabilitas yang ada, namun disisi lain hal ini juga menghadirkan barrier to entry bagi para pengusaha “nanggung” yang memiliki modal pas-pasan untuk menjalankan bisnisnya. Maka, jangan heran jika sektor riil di Indonesia tidak berkembang seperti jalan tol.

Lalu dari sisi politik. Terus terang saya kurang suka membahas sisi yang satu ini. Bangsa ini masih bar-bar dalam hal berpolitik. Tidak ada kata elegan dan altruistik dalam kamus para politisi. Bahkan saya cenderung berpikir, bahwa orang yang mengambil jalur politik ini hanyalah orang-orang yang gagal di jalur profesional. Kejadian memalukan seperti insiden penyerangan sepihak karena kalah dalam bertarung sudah merupakan hal yang umum. Memang, sabda sang nabi besar John Forbes Nash alahis salam tentang Prisoner’s Dilemma menyebutkan bahwa kita tidak boleh percaya pada semua pihak. Namun apa jadinya jika setiap keputusan yang ditelurkan oleh sebuah instansi itu dianggap dipolitisasi? Coba anda lihat dua kasus terbaru dari Gus Dur dalam “sengketa PKB-nya”[1] dan Fraksi PDIP yang kalah dalam pilwagub Sumatra Selatan[2]. Mereka semua adalah contoh manusia katrok yang nggak bisa dengan lapang dada menerima kekalahan. Tidak ada lagi wajah pahlawan seperti Hillary Clinton yang justru mengakui kekalahannya dengan sportif dan malah membantu Barack Obama untuk menjadi calon presiden AS.

Dari sisi Olahraga lebih menjengkelkan lagi. Lihatlah, betapa “hebatnya” Indonesia ketika berhasil menjuarai Piala Kemerdekaan beberapa waktu lalu. Ya, jangankan untuk berprestasi, untuk sekedar bermain bagus dan sportif saja tidak bisa. Kerusuhan disana-sini, pelanggaran keras berupa tackling yang benar-benar mematikan masih sering terpampang di layar kaca. Belum lagi kelakuan si bangsat Nurdin Halid bersama (maaf) para anjing-anjing penjilatnya seperti Mafirion dan Nugraha Besoes di organisasi PSSI. Anda pasti sudah tahu bahwa sanga ketua PSSI Nurdin Halid masih memimpin PSSI meskipun sekarang ia tengan dipenjara akibat tersandung kasus penyulundupan gula impor ilegal, dan korupsi dana pengadaan minyak goreng juga impor beras Vietnam yang dilakukannya tahun 2004 lalu. FIFA sudah memperingatkan PSSI untuk segera mengganti ketuanya, namun apa daya, alih-alih mengganti sang puan, PSSI justru melakukan manuver untuk mempertahankan sang puan Nurdin di tampuk kepemimpinan. Kabar terbaru mengatakan bahwa puan bisa mengajukan diri lagi![3] Bayangkan, organisasi sebesar PSSI dipimpin oleh seorang narapidana. Bagaimana bisa maju ?

Dari sisi sosial dan hiburan, pengaruh sinetron di Indonesia sedemikian besarnya kepada jiwa anak-anak muda jaman sekarang. Saya memiliki tetangga seorang artis figuran, dia bahkan rela mengorbankan kuliahnya demi karier di dunia akting. Bukannya saya menyalahkan hal ini, tetapi opportunity cost yang besar dalam bentuk menuntut ilmu telah hilang. Coba anda lihat Cina dan Malaysia, mereka sangat concern terhadap perkembangan pendidikan. Tahun 90an awal, mereka masing-masing masih merupakan negara berkembang dan negara dunia ketiga. Sekarang? Mobilitas vertikal telah terjadi sedemikian cepatnya dalam dua negara tersebut. Yang justru menjadi negara dunia ketiga sekarang adalah Indonesia. Lihat saja, sinetron-sinetron katrok dan konyol justru laku keras di Indonesia, acara-acara yang mengandung unsur informasi malah kesulitan mencari iklan. Ya, kualitas acara yang ditonton memang mencerminkan kualitas penontonnya bukan? Harus diakui, bangsa ini menggunakan TV hanya untuk hiburan semata, tidak seperti bangsa Jerman maupun AS yang memposisikan TV sebagai sumber informasi.

Hmmm… sebenarnya masih banyak lagi kekecewaan saya terhadap bangsa ini yang jika saya tulis bakalan panjang sekali. Akhirnya saya mengerti, mengapa para cendekiawan selevel BJ Habibie tidak akan pernah tumbuh lagi di Indonesia. Sekali lagi, saya setuju dengan Pak Djatun, Jika sebuah negeri itu bar-bar, maka semua aspeknya juga akan menjadi bar-bar, dan itulah Indonesia. Huh, memang sulit menjadi manusia maju di Indonesia. Dan buat kakak saya yang sudah mulai kedinginan di Hamburg, “Akhirnya aku ngerti banget, mengapa sampean memilih istri dari Finlandia, hehehehe”

Salam,


[1] http://news.okezone.com/
[2] http://news.okezone.com/
[3] http://www.detiksport.com

Gambar diambil tanpa ijin dari Antobilang

Sedikit Tentang Pilpres 2009

Yups, sebentar lagi tahun 2009 terbuka. Calon-calon mulai berkampanye untuk membuat dirinya populer. Janji-janji bull shit sudah mulai tertebaran dimana-mana. Iklan-iklan yang berisi peningkatan popularitas juga mengikuti layar kaca. Semuanya kelihatan bagus, sehingga sulit bagi kita untuk membedakan, mana yang jelek dan mana yang jelek sekali.

Jujur, saya tidak pernah percaya jika seseorang yang menjabat pos tertentu di pemerintahan adalah titipan dari partai tertentu, karena selain dimungkinkan adanya praktek dagang kebo, sampai sekarang saya masih mengklaim bahwa utusan partai, pasti kerjanya nggak bener. Coba kita lihat di kabinet yang ada sekarang. Menteri yang mendapatkan penghargaan dan kinerjanya memang bagus (menurut saya) justru datang dari kalangan profesional. Terlebih jaman sekarang, demam politik juga sudah merambah artis, seperti apa yang digambarkan senior saya lewat karikatur uniknya disini.

Nama-nama calon sudah ada dari semua golongan, dari yang tua seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto, Megawati Soekarnoputri, & Jusuf Kalla sampai yang mengaku muda seperti Sutiyoso, Prabowo Subiyanto, Soetrisno Bachir, dan Rizal Mallarangeng. Dari yang mantan menteri yang sekarang sudah banting setir jadi aktor film seperti Yusril Ihza Mahendra sampai pekerja seni komersial yang ingin banting setir menjadi politisi seperti Ratna Sarumpaet (would you believe it?)

Memang, tak semua dari mereka akan benar-benar maju. Mungkin ada juga yang menggunakan moment pilpres ini sekedar promosi diri. Ya sudah lah, saya pun tak mau ambil pusing dengan kondisi ini. Karena saya sudah kadung nggak percaya dengan bacot para politisi, entah siapapun orangnya, meski dia dari partai islam yang mengaku anti korupsi sekalipun. Bukan hanya moralnya, tapi juga kemampuannya. Saya setuju dengan Bang Gopar. “Saya muslim, tapi jangan paksa saya menyoblos partai muslim.”

Saya nggak mau terlalu berkata banyak. Kita lihat saja nanti. Nah, pesan saya buat wong cilik, santai saja, nggak usah terburu nafsu untuk membela siapa yang benar. Nggak usah capek-capek kampanye karena toh sampean akan ditendang juga. Mendingan kita ambil saja eksternalitas positif atas adanya pilpres 2009. Bakalan banyak proyek yang mampir ke kita, seperti survey mendadak dengan bayaran 500 ribu dua hari, atau bisnis sablon dan kaos-kaos partai. Moment yang pas buat berbisnis bukan?

Lantas, bagaimana kalau ternyata presiden yang terpilih 2009 justru presiden yang tidak mumpuni dan cuma menang simpati dan popularitas semata? Gampang. Justru itu adalah kesempatan kita untuk menjadi kaya mendadak. Lho, kok bisa?

Begini, sampean tinggal beli dollar sebanyak-banyaknya. Kalo perlu di-rush juga nggak apa-apa. Sampean bakalan untung. Soalnya, keesokkan harinya dollar akan kembali menguat karena kinerja presiden kedepan yang payah. Taruhlah anda beli dollar seharga Rp 9500,- setiap dollarnya tahun 2009. Siapa tahu karena presidennya payah, dollar tahun 2010 jadi Rp 11.000,- dan 2011 jadi Rp 12.000,-. Nah, kalo begitu sampean kaya kan? Mari menabung untuk membeli dollar.

Salam,


Gambar diambil tanpa ijin dari berbagai sumber. Diedit alakadarnya menggunakan powerpoint

Love & Security Market Line

A while ago I got two ‘outflows’ from my closed friends about their romantic story. The stories has similar plot about the beast and the beautiful. The beast here is not only on their face, but also their financial condition. However, the ‘beautiful’ species here is little bit different. The first beautiful is the heredity of the legislator in this republic, the second one is the heredity of one of the biggest furniture entrepreneur in this republic.

Here’s the deal, The princes above don’t know what to do to reach their dream. Every night, they dream their respective woman. It seems like they just have a little bit chance since they don’t have similar value with their dreams. As you know that the dating in Indonesia can be analogized as supply-demand law in classical economics. I’m not giving you an obvious solution for them all. I’m not a Don Juan that can vanquish all the women in the world. I just wanna share my unique idea about choosing the women love by using CAPM
Continue reading ‘Love & Security Market Line’

Menanti Zizi Berbusana Bikini Nan Sexy

Artikel ini mohon jangan ditanggapi secara serius, atau anda akan tidak bahagia dunia akhirat setan.

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat kepada Zivanna Letisha Siregar aka Zizi, anak IE angkatan 2007 yang sukses menggondol gelar Puteri Indonesia 2008. Semoga lebih banyak fans dan tidak sekelas dengan saya (karena saya ingin lulus, malas menunggu angkatan 2007 ). Berita tentang kesukesan Zizi bisa dilihat disini

Well, sebuah kebanggaan memang bagi warga FEUI karena memang kampus ini selama ini dikenal bukan karena prestasi emasnya, tapi lebih karena proyek-proyeknya yang menghasilkan uang yang menggiurkan. Prestasi level internasional terakhir yang dicapai mahasiswa FEUI diraih oleh Leonardo Kamilius and the gank di ajang Trust by Danone di Paris. Dan tahun ini, sebuah tim tengah berusaha mewujudkan ambisinya meraih Juara Dunia di L’Oreal E-strat Challange 2009. Ke”seleb”an Zizi sekaligus menambah daftar selebriti yang kuliah atau pernah DO dari FEUI seperti Nagita Slavina, Lola Arieza, Afgan, dan eks abang buku 2007 Dedy Arfiansyah aka Ianomics (nama terakhir, saya menulisnya dalam tekanan ) dll.

Kita tahu, selanjutnya si Zizi bakalan “bertarung” lagi di ajang Miss Universe 2009. Nah, ini yang menarik. Meskipun saya tidak cukup yakin dia akan menang berhubung dia bukan berasal dari Venezuela atau Puerto Rico. Saya menanti, apakah akan ada “ribut-ribut” di kampus saya keesokkan harinya?

Dalam ajang Miss Universe, Zizi kemungkinan akan berada di sesi memakai bikini. Sebuah momentum dimana para hidung belang di FE dapat melampiaskan hasratnya yang terpendam untuk menyaksikan si Zizi memakai pakaian bikini . Hal itu wajar karena bikini tidak mungkin dipakai di kampus untuk kuliah . Nah, pertanyaannya, apakah para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi dakwah kampus itu akan berdiam diri?

Saya prediksi, paling tidak akan ada secercah tulisan di mading FSI nantinya berbicara soal hukum islam dalam memakai bikini. Kemungkinan akan keluar dalil-dalil tentang batas aurat wanita. Terserah lah. Saya hanya berdo’a, semoga tidak terjadi pertumpahan darah apalagi perang salib modern di kampus kesayangan saya. Karena kita semua bersaudara

Anyway, untuk anak FE, keberhasilan Zizi seharusnya bisa menjadi cambuk untuk lebih berprestasi lagi. Coba anda bayangkan, betapa bangganya anda berprestasi di level tertinggi dalam karier anda. Paling tidak, L’oreal E-strat Challange yang ada di depan mata bisa menjadi target untuk dikejar, agar dapat mengulangi senior yang kapitalis dan agak brengsek itu menjadi juara dunia.


Campaign

My Gallery

On Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

RSS The New Yorker

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS The Jakarta Post

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Blog Stats

  • 28,824 hits