Archive for the 'Common Sense' Category

The Blood-Sucking Opportunist Malaysia

sipadanOne of this week’s stand-out displays Malaysia’s unethical self-claimed issue that has been again blown up. They’ve recently claimed Pendet dance in their tourism advertisement. For Indonesian people, that’s been truly infuriating since they do Pendet as though their cultural heritage. I’ve been in the same boat with heru when he wrote it as a blood-sucking opportunist that will do everything to get everything that smells like money. Let alone, they’ve previously claimed Batik, Reog Ponorogo, any Indonesian folklore songs, etc. Well, that’s actually more than I can take. Malaysia won’t stop their action since they realize that they have lack of marketable cultural heritage can be used to make selling point.

Continue reading ‘The Blood-Sucking Opportunist Malaysia’

Advertisements

You’re not afraid, so what?

Kami Tidak Takut!! (We're Not Afraid!)After the JW Marriott & Ritz Carlton blasts, Indonesia Unite’s slogan “We’re Not Afraid” has been getting popular. “We’re not afraid” actually is an outlet for the global community to speak out against the acts of terror that have struck London, Madrid, New York, Afghanistan, Bali, etc. It’s also aimed to hail against the atrocities occurring in cities around the world each and every day. So, it’s a worldwide action for people not willing to be cowed by terrorism and fear mongering. In Indonesia, it’s aimed to encourage Indonesians to be no longer repressed by the fears about any terrorism threats. That’s it, that slogan seems show to the world that everything’s okay though the bombs have killed more than 10 victims and injured dozens others. Hmm.. sounds good, right? They try to stick out our strength and make the terrorists quiver.

Continue reading ‘You’re not afraid, so what?’

Efisiensi Pasar Parpol di Indonesia

“Efficient Market is a Bullshit !!!”
Philip Greenspun

Di awal tahun 1960-an, seorang mahasiswa Ph D dari University of Chicago, di negeri paman sam yang ditengarai bernama Eugene Fama dengan tergopoh-gopoh akhirnya berhasil menyelesaikan tesisnya. Sebuah tesis yang pada akhirnya menjadikan pertentangan tersendiri di antara geng-geng pialang saham di Wall Street dengan investor-investor filosofis seperti eyang guru Warren Buffet. Tesis itu dikenal dengan nama efficient-market hypothesis. Tahun 1965, bersama studi empiris yang telah dilakukan Paul Samuelson, ia menyatakan kepada dunia alasan pengemukaan hipotesis tersebut. Alasannya tiada lain dan tiada bukan karena random walking yang terjadi dalam pasar saham. That’s it, harga saham di masa depan sesungguhnya tidak bisa diprediksi oleh siapapun juga, termasuk para analis sekuritas ternama. Karena jika harga tersebut bisa diprediksi, maka pasar akan berlangsung efisien.

Sederhananya begini, efficient-market hypothesis menyatakan bahwa pasar saham itu efisien secara penyebaran informasi. Ada tiga macam hipotesis ini, yaitu weak-form, semi-strong form, & strong form. Dalam strong form hypothesis dinyatakan bahwa menyatakan bahwa semua informasi yang ada baik itu publik atau privat sudah terlihat di harga saham alias tidak ada lagi asymmetric information sehingga segala analisa saham tidak lagi bermanfaat. Ini adalah hipotesis yang sangat ekstrim. Namun yang jadi pertanyaan, apakah pasar tersebut efisien? Jawabannya cenderung tidak.

Mengapa tidak efisien? hal ini dikarenakan banyaknya informasi asimetris yang beredar di pasar. Sebagai contoh begini, asumsikan anda belum mengetahui apapun tentang laptop dan anda memiliki uang berlimpah seperti Syeh Puji. Anda ingin membeli sebuah laptop kepada saya, dan saya memberi dua pilihan laptop dengan spesifikasi yang sama, yaitu laptop dengan harga Rp 7 juta dan laptop dengan harga Rp 6 juta, terlepas dari apapun merknya. Pertanyaan saya, apakah sebagai pembeli anda langsung bisa memastikan bahwa laptop dengan harga Rp 7 juta itu lebih baik daripada laptop dengan harga Rp 6 juta? Apakah anda tahu dengan pasti berapa biaya produksi kedua laptop tersebut? Anda mungkin tidak tahu kalau laptop Rp 6 juta tersebut pernah jatuh ataupun terkena force majeur lainnya bukan?

Informasi tentunya takkan tersebar secara sempurna karena kemungkinan besar, penjual akan menjaga beberapa informasi rahasianya. Hal itu yang membuat pasar tidak efisien. Selain itu, secara umum ada dua hal lagi yang menyebabkan pasar tidak efisien. Pertama adalah tingkah laku pembeli, sejauh mana pengetahuan dia akan produk tersebut secara umum dan sejauh mana tingkat risk averse-nya. Kedua adalah tingkah laku pelaku pasar nakal, yang hobby menimbun atau “mengguyur” barang di pasar dengan harga di bawah harga keseimbangan sehingga hal itu membuat harga bergoncang.

Nah, apa kaitannya hipotesis diatas dengan parpol di pemilu 2009? Begini, saya menganalogikan mereka seperti sebuah komoditas barang yang akan diperjual-belikan dalam suatu pasar. Jika pasar memang efisien, maka akan ada dua hipotesis turunan yang tak terhindarkan lagi :

  1. Hasil pemilu 2009 nanti akan menjadi sebuah gambaran mengenai parpol terbaik dan tidak terbaik. Partai pemenang pemilu 2009 (berikut caleg-calegnya) adalah partai terbaik yang ada saat ini
  2. Pemilih mengetahui segala informasi yang ada sehingga mereka bisa dipastikan memilih yang terbaik menurut mereka
  3. Partai yang terbentuk memang benar ingin mewakili rakyat, dan bukan hasil spekulasi pemain besar untuk memecah suara lawan (political trade).
  4. Janji-janji dan materi kampanye merupakan murni ide mereka untuk memajukan bangsa, bukan semata-mata untuk menarik simpati rakyat dan juga menjatuhkan pihak lain.

Sejumlah pialang di Wall Street sering mengatakan bahwa pasar efisien hanyalah omong kosong belaka, utopis, dan tidak akan pernah terjadi di dunia ini. Hal itu diungkapkan karena tidaklah mungkin informasi tersebar secara sempurna dan kita tidak pernah tahu niat utama investor membeli saham. Dan menurut saya, pasar efisien juga mustahil terjadi dalam persaingan merebut konstituen di ajang pemilu 2009 mendatang. Mengapa? maaf jika saya terkesan sok tahu. Poin nomor 2 dan 3 (terutama nomor 2) menurut saya adalah hal yang sangat kecil kemungkinannya. Mungkin perlu studi empiris lagi untuk membuktikan poin nomor 3, tapi setidaknya saya melihat kejadian itu secara common-sense.

Untuk poin nomor 4, secara subyektif saya melihatnya sebagai hal yang paling utopis diantara yang lain. Saya bukan simpatisan partai manapun, namun saya agak miris melihat materi kampanye yang diajukan mereka. Secara konsep pemasaran memang tidak ada salahnya, namun justru hal itulah yang membuat pasar politik di Indonesia semakin tidak efisien. Sebagai contoh, iklan parpol yang menyebut 80% masyarakat Indonesia menyebut bahwa pemerintahan sekarang gagal mengendalikan harga sembako. Ada dua hal yang saya garis bawahi dari iklan diatas. Pertama, angka 80%. Sungguh, saya masih tidak percaya kalau angka itu bukan penipuan statistik. Kita harus melihat dulu, berapa ukuran sampel-nya dan jenis sampling apa yang digunakan oleh surveyor tersebut. Kedua, entah karena parpol tersebut tahu atau tidak, melonjaknya harga sembako sedikit banyak dipengaruhi oleh krisis pangan dunia sebagai multiplier effect dari krisis energi yang melanda dunia medio 2008 lalu. Contoh lain adalah iklan yang menggunakan endoser seorang tokoh kontroversial yang hingga kini masih menjadi perdebatan tentang “kepahlawanannya”. Hal ini tidak lebih dari sebuah anti-marketing yang tentunya memiliki beberapa tujuan-tujuan politis lainnya.

Pencalonan berbagai artis yang tidak kompeten juga semakin memperkuat kondisi ketidakefisienan pasar politik di Indonesia. Jujur, diantara yang artis-artis yang telah dan akan menjadi anggota legislatif, bagi saya hanya Angelina Sondakh yang pantas disebut kompeten. Yang lain mungkin harus belajar 10-20 tahun lagi. Saya sering melihat betapa “hebat-nya” mereka di media, yang terkadang seolah jauh lebih hebat dari para doktor lulusan Harvard maupun Princeton.

Kesimpulannya adalah, pasar politik di Indonesia tidak efisien. Memang tidak ada yang efisien di muka bumi ini. Namun bisakah kita menuju kurva efisiensi tersebut? Pertanyaan yang utopis bukan?

Salam,


Gambar diambil dari berbagai sumber

Artikel ini adalah salah satu artikel terpanjang dan terutopis yang pernah saya tulis.

Bumi-ku Yang Terancam Punah

“Takutlah saat orang lain tamak dan tamaklah saat orang lain takut!”
Warren Buffet

Tanggal 12 Mei tahun 2008, genap 10 tahun Tragedi Semanggi yang menewaskan beberapa manusia itu terjadi. Saat itu pula seorang mahasiswa yang tengah mencoba peruntungannya di dunia pasar modal dengan kepercayaan diri yang cukup tinggi akhirnya memutuskan untuk memasukkan saham PT Bumi Resource Tbk (BUMI) ke dalam keranjang portofolionya. Alasan sederhana diluar perhitungan resiko yang begitu kompleks tidak lain adalah akselerasi profitabilitas perusahaan tambang ini yang begitu fantastis. BUMI saat itu didaulat sebagai perusahaan batubara yang memiliki pertumbuhan aset kedua terbesar di dunia. Dan sang investor muda pun tak segan merogoh koceknya untuk membeli beberapa lot saham BUMI dengan harga Rp 7265,- per lembarnya.

Namun apa daya, krisis keuangan global dan aksi korporasi PT Bakrie & Brothers (BNBR) “menjual” 35% saham BUMI kepada Northstar Pacific hanya karena alasan likuiditas benar-benar mengeruk “kekayaan” dari BUMI. Saat ini sejumlah pemegang saham BUMI antre dalam melakukan penjualan saham naas tersebut, tapi sialnya hanya sedikit pihak yang mau membelinya. Maka tidak heran jika volume perdagangan BUMI kamis lalu hanya 11.703.500 lembar saja atau 23.407 lot saja! Hal ini jauh dari rata-rata kapitalisasi pasar BUMI dalam lima bulan terakhir yaitu sebesar 155.987.347 lembar! Alih-alih melakukan profit taking, sang investor pun harus rela merealisasikan kerugiannya menjelang lebaran lalu sebesar Rp 4097,- per lembarnya atau sekitar 56.15% karena ketakutan akan meluncurnya harga saham tersebut. Dan ternyata, prediksi sang investor sedikit banyak benar. Hingga tulisan ini ditulis, harga saham BUMI pada penutupan kamis kemarin adalah Rp 860,- per lembarnya. Harga disinyalir akan turun lebih jauh lagi hingga level Rp 600,- per lembar!

Sebuah anomali memang, perusahaan yang dinilai begitu bonafit akhirnya luluh lantah berantakan di pasar saham. Memang, ada sebuah ketamakan dari investor Mei lalu ketika ia membeli saham BUMI. Saham yang sudah terlalu overvalue di harga Rp 8000-an dianggapnya merupakan saham dalam kategori blue-chip yang akan terus menerus mengalami kenaikkan. Kenyataannya adalah sebaliknya. Sang investor mengetahui dengan pasti karena melambungnya harga batubara saat itu, adalah faktor yang membuat harga saham batubara dunia mengalami bubble. Dari kondisi itu, mungkinkah kita masih percaya jasa para analis investasi? Jawabannya bisa iya bisa tidak, tergantung penggunaan. Yang pasti, kasus BUMI ini menunjukkan bahwa pasar tengah tidak efisien.

Mungkin seorang investor nilai seperti Warren Buffet akan tertawa terbahak-bahak dan menganggap bahwa saham-saham seperti BUMI adalah sebuah awal baginya untuk kembali mengokohkan diri sebagai manusia terkaya di dunia. Namun kita nantikan, apakah reversal effect yang diharapkan oleh para investor nilai akan muncul dalam kurun waktu beberapa bulan kedepan.

Nasib rupiah, mata uang yang mem-Bumi

Tak hanya BUMI, Rupiah pun akhirnya ikut mem-BUMI. Saat ini, perlahan tapi pasti US $ akan menembus level Rp 13000,-. Hal ini diperparah dengan keengganan masyarakat melepas dolar karena ekspektasi mereka akan dolar yang terus naik. Permintaan akan dolar pun bertambah, sehingga harganya semakin mahal. Sialnya, melonjaknya harga dolar ini tidak serta merta menguntungkan pihak eksportir karena kondisi negara pengimpor di dunia tengah mengalami resesi ekonomi.

Pemerintah pusing, mulai dari himbauan, teguran (dua senjata utama pemerintah), penjaminan dana nasabah maksimum Rp 2 Milyar,- hingga mempertahankan BI Rate sebesar 9,5% sudah dilakukan. Mereka berusaha agar capital outflow bisa ditekan sehingga uang itu tidak “kabur” kemana-mana seperti halnya krisis ekonomi tahun 1997. Namun mereka juga mengalami trade-off dimana sektor riil Indonesia jadi kurang bergairah karena tingginya tingkat suku bunga acuan yang mengakibatkan kredit usaha di Bank menggembung. Kredit untuk perumahan pun berubah menjadi sesosok monster yang menakutkan bagi nasabah. Untuk menghadapi permasalahan ini, BI pun telah mencoba melakukan operasi pasar terbuka seperti melakukan repo (repurchase agreement) surat utang negara dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) melalui mekanisme lelang.

Pendapat pro dan kontra mengenai bertahannya BI Rate pun bermunculan. Pihak kontra mengatakan, sebaiknya pemerintah menggairahkan dulu sektor riil karena hal ini akan menunjang pertumbuhan ekonomi di masa yang akan datang. Karena percuma saja mempertahankan modal ekuitas jika toh akhirnya pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan. Nah, hal ini akan mengacu kepada lesunya nilai tukar.

Sementara pihak yang pro mengatakan bahwa perlunya pertahanan BI Rate adalah aksi capital control yang dilakukan demi mempertahankan arus modal dalam negeri. Posisi selisih aliran dana asing memang masih positif, namun hal ini dikhawatirkan akan menipis. Indonesia sendiri saat ini masih termasuk golongan emerging market[1] yang dianggap memiliki pertumbuhan ekonomi dan industri cukup baik. Jika uang tersebut bisa bertahan lebih lama, maka hal ini akan mempengaruhi nilai tukar rupiah, terhadap dolar dan yen.

Memang selalu ada trade-off antara keputusan jangka pendek dan jangka panjang. Dan hal itulah yang membuat saya ngeh, betapa sulitnya menjadi menteri keuangan. Tapi anehnya, para mahasiswa dan LSM yang hobby berdemo untuk menurunkan harga BBM tak ada yang bersuara untuk kasus ini. Padahal mereka kan kaum intelektual karena buktinya analisa fundamental mereka menganggap bahwa penurunan harga premium itu adalah sebuah keharusan. Pun jika ada yang berdemo, mereka hanya bicara tentang “Jangan Utang Kepada IMF”. Mungkinkah masalah ini terlalu ringan untuk mereka?

Tapi paling tidak, keputusan Indonesia untuk tidak lagi bergantung pada IMF di KTT G-20 adalah suatu hal yang melegakan.

Salam,


1 Data dari Morgan Stanley Emerging Markets Index MSCI Emerging Markets
2 Data keuangan diambil dari Yahoo Finance
3 Gambar Bumi tanpa grafik diperoleh dari Googling (lupa nama situsnya… maaf ya buat yang ngerasa dibajak… hehehe)
4 Temen saya pernah nulis tentang 3 mitos di pasar modal (tulisannya di notes facebook). Mungkin bisa dilihat disini sebagai tambahan

Bicara Lagi Tentang Harga BBM

Bulan Juni lalu masih terekam hangat dalam benak saya mengenai pro dan kontra masyarakat tentang kenaikkan harga BBM oleh pemerintah. Pihak pro mengatakan, bahwa selain untuk mengurangi subsidi yang selama ini menjadi beban negara dan menghilangkan peluang arbitrase, apa yang mereka lakukan hanyalah mengikuti mekanisme pasar dimana dunia benar-benar dipusingkan dengan harga minyak yang melambung tinggi. Sementara yang kontra cenderung melihat bahwa daya beli masyarakat yang minim, akan terus tergerus dengan kenaikkan harga BBM ini, seperti apa yang diutarakan oleh sang profesor Erasmus University, Kwik Kian Gie. Saya sendiri saat itu berada dalam pihak yang pro kenaikkan harga BBM dan saya pernah menuliskan alasan saya disini, sebelum akhirnya mendapatkan sebuah tentangan dari seorang anonim yang mengaku bernama Dian Lanang dengan ke”ngotot”annya yang akhirnya justru membuat saya “ngecengin” dia.

Dan saat ini, harga minyak dunia justru sedang mengalami penurunan. Data yang saya lansir dari oil-price.net diatas menunjukkan harga minyak telah menyentuh kisaran US $ 70 per barrel karena turunnya permintaan minyak akibat resesi ekonomi global. Harga tersebut jauh dibawah harga internasional pada masa Juni, yaitu kisaran US $ 125 per barrel. Muncul sebuah wacana untuk menurunkan harga BBM. Wacana itu dimunculkan sebagai komparasi atas penurunan harga petroleum di AS yang mencapai kisaran Rp 7650,- per liternya. Selain itu, penurunan harga BBM dimungkinkan akan membuat sektor riil di Indonesia untuk kembali bergairah. OK lah, mari kita berandai-andai tentang penurunan harga BBM dengan sebuah ilustrasi yang sederhana dan sedikit common-sense dibawah ini.

Skenario 1, penurunan harga BBM dari sisi Mikroekonomi

Saat ini, harga premium sudah mencapai Rp 6000,- setiap liternya dikala harga ekuilibrium internasional yang mencapai ± Rp 11000,- per liter. Sudah barang tentu harga Rp 6000,- adalah harga BBM bersubsidi. Sementara harga pasar dunia telah turun ± 44% dari harga tertinggi bulan Juni. Harga BBM tak mungkin turun segila itu, karena hal ini bisa mengakibatkan goncangnya pasar di Indonesia. Taruhlah harganya turun kembali jadi Rp 4.500,- per liter, daya beli masyarakat pun akan kembali pulih dan sektor riil akan kembali bergairah untuk aktivitas produksinya. Pulihnya daya beli masyarakat juga bisa diartikan dengan meningkatnya pendapatan riil mereka, sehingga untuk barang normal, konsumsi mereka akan bertambah besar.

Bagi perusahaan, turunnya harga BBM berarti turunnya pula biaya produksi. Hal ini akan merangsang perusahaan untuk memproduksi output barang lebih banyak bukan? Hal inilah yang diharapkan pemerintah dan kita semua. Sektor riil berkembang dan lapangan kerja terbuka. Aktivitas produksi perusahaan tersebut serta merta akan mengembalikan permintaan agregat dari perusahaan terhadap minyak. Nah, jika sudah begitu, akibatnya adalah harga minyak bisa naik kembali.

Kembali ke sisi konsumen. Apakah penurunan harga minyak akan berpengaruh besar kepada inflasi? Saya pikir ya, namun tidak signifikan dan hanya sesaat saja. Ada beberapa alasan yang mendasari statement saya barusan. Kedua ilustrasi saya ini didasari oleh sebuah konsep mikroekonomi sederhana yang disebut dead-weight loss.

  • Perusahaan memang mendapatkan “keringanan biaya” dalam memproduksi barang. Namun saya kira, hal itu tidak serta merta merangsang mereka untuk menurunkan harga. Terutama pada barang yang sifatnya B2C (Business to Consumers). Penurunan harga BBM justru menjadi sebuah kesempatan untuk meraup surplus produsen yang lebih besar (dikala pendapatan riil konsumen naik). Karena mereka berkesempatan untuk memproduksi dengan biaya yang lebih rendah. Contoh konkritnya, mungkinkah pedagang warteg menurunkan harganya hanya karena BBM turun sedikit? saya pikir jika mereka menurunkan harga, mereka berada diambang kehancuran.
  • Struktur biaya terbesar perusahaan sebenarnya bukan pada biaya transportasi BBM, tapi adalah upah gaji karyawan. Nah, yang namanya gaji karyawan adalah variabel yang nyaris tidak mungkin diturunkan. Pun jika diturunkan, demonstrasi besar-besaran akan menghiasi macetnya ibukota. Alasan penurunannya logis, yaitu karena kebutuhan karyawan (seharusnya) lebih sedikit karena harga BBM turun. Namun hal itu nyaris tak mungkin dilakukan. Maka dari itu, berkurangnya harga BBM pun sebenarnya tidak terlampau signifikan dampaknya terhadap COGS sebuah barang (secara umum). Dan alhasil, penurunan itu tidak mengakibatkan turunnya harga jual sebuah barang.

Nah, dari sisi mikroekonomi dengan ilustrasi diatas, saya cenderung mengusulkan pemerintah untuk tetap bertahan di harga BBM saat ini.

Skenario 2, penurunan harga BBM dari sisi Makroekonomi

Untuk ilustrasi berikut, sebenarnya saya menggunakan logika berpikir saja. Dan maaf jika data-data yang saya sajikan tidak terlalu lengkap. Begini, saya melihat ada sebuah korelasi positif antara jatuhnya indeks harga saham Dow Jones dengan harga minyak mentah dunia. Alasannya simpel, resesi ekonomi global membuat industri lesu sehingga aktivitas produksi mereka menjadi minimum. Dan pada akhirnya, permintaan terhadap minyak pun menurun sehingga sangat wajar apabila harganya pun turun. Venezuela dan Iran adalah negara yang paling dipusingkan dengan kasus ini, karena mereka adalah eksportir minyak terbesar di dunia.

Namun apa yang terjadi jika pasar kembali bergairah dengan ditandai dengan meroketnya indeks harga saham di seluruh dunia? Aktivitas produksi pun akan kembali bergairah dan otomatis, permintaan akan minyak akan kembali ke titik normal. Saat ini, mungkin rebound terhadap indeks harga saham dunia belum begitu signifikan. Tapi dengan terpilihnya presiden baru di AS, kemungkinan akan terhembus sebuah harapan baru karena selama ini, kedua kandidat capres AS memang menyembunyikan kartu truf-nya untuk mengatasi krisis perekonomian demi kepentingan politik. Saya yakin, indeks Dow Jones akan kembali rebound ke titik normal karena bagusnya fundamental ekonomi AS. Maka dari itu, dengan kembalinya permintaan akan minyak membuat harga akan kembali ke level normal (harga ekuilibrium).

Nah, jika sudah begitu, kalau kita turunkan harga minyak sekarang, tentunya jika suatu saat minyak dunia kembali bullish, maka kita harus kembali lagi menaikkan harga minyak, dan para mahasiswa yang katanya bermodalkan intelektual itu akan kembali demo dan bikin macet di jalan. Pilihan yang sulit bukan?

Keputusan Pemerintah

Itulah sedikit ilustrasi sederhana tentang gonjang-ganjing harga BBM. Lantas bagaimanakah seharusnya pemerintah? Saya setuju dengan pernyataan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, ini keputusan politis. Sangat sulit untuk mengambil keputusan ini beserta resikonya. Bisa juga kan presiden SBY mengambil langkah politik untuk menurunkan harga BBM menjelang tahun 2009 ini? Tapi menurut hemat saya, sebaiknya Harga BBM jangan diturunkan. Intinya adalah, harga BBM ini cenderung akan terus naik hingga stok minyak dunia habis. Ini bukan masalah siapa yang untung atau rugi, tapi adalah perbandingan dampak yang dihasilkan dengan biaya sosial yang harus dikorbankan dengan penurunan harga BBM ini. Saya yakin, presiden SBY dan para menterinya tahu benar apa yang harus dilakukan.

Sekian ilustrasi sederhana dari saya, terima kasih.

Salam,

Dan Dunia Pun Menangis Karenanya

“kini ku sesali
nyata cintamu kasih
tak sempat terbaca hatiku
malah terabai olehku”
Tangga – Kesempatan Kedua

Beberapa minggu yang lalu, saya sempat menuliskan tentang goncangan besar yang melanda saham-saham Wall Street yang berpengaruh kepada krisis finansial dunia. Saat itu, dunia sedikit terguncang dengan kejatuhan indeks Dow Jones hingga level 11.122,77. Apa yang terjadi saat ini justru lebih parah. Aksi bailout yang dilakukan pemerintah AS disertai dengan pemangkasan suku bunga acuan tidak serta merta mampu mengembalikan kepercayaan pasar. Hal itu tercermin dalam kemerosotan tajam Indeks Dow Jones pada penutupan perdagangan saham Kamis waktu AS (8/11/2008) pada level 8,579.19. Sepanjang tahun ini Dow Jones telah jatuh hingga 30%. Hal yang sama juga terjadi pada IHSG yang terpaksa harus di-suspend rabu kemarin jam 11.08 WIB akibat penurunan dahsyatnya sebesar 10,98% hingga level 1,451.67. Sebuah level terendah dalam 28 bulan terakhir!

Tunggu, sebelum saya melanjutkan celoteh saya yang agak banyak mengandung unsur common-sense ini, saya ingin menerangkan tentang lirik lagu tangga & gambar wanita yang tercantum diatas. Jika anda menanyakan tentang korelasi kedua hal tersebut dengan tulisan saya, maka dengan lantang saya jawab ‘nggak ada’. Begini, akhir-akhir ini saya memang sedang gandrung sama grup vokal super-mellow asal Jakarta ini setelah sekian lama saya tidak mengikuti perkembangannya. Musikalitas mereka lumayan bagus, terlebih suara sang vokal mezzo sopran dari Nerra, salah satu vokalis cewek mereka, begitu indah & melankolis serta memiliki karakter suara yang sedikit mirip dengan Krisdayanti (untuk lagu ini). Harap dimaklumi karena dia merupakan ‘jebolan’ Elfa Secioria yang pernah ikutan Choir Olympic Elfa’s Secioria di Linz-Austria 2002 dan Olympic Elfa’s Secioria di Busan-Korea 2002. Selain itu paras cantik dari cewek 23 tahun ini bisa anda nikmati di foto diatas. I guess she has pretty cute face. Mungkinkah malaikat Ridwan yang tengah bertugas di surga terlelap dalam sekejap sehingga bidadarinya ada yang terpeleset jatuh ke bumi dan menjelma menjadi seorang penyanyi?

Kembali ke BEI. Hingga hari ini, BEI masih tutup karena gejolak pasar finansial dikhawatirkan akan semakin memperlemah indeks. Selain itu, perusahaan BUMN pun diminta untuk melakukan buy back di saat harga saham sedang jatuh. Kabarnya, aturan buy back saham pun akan diperlonggar yaitu bisa dilakukan tanpa melewati RUPS. Sungguh sebuah kepanikan yang luar biasa. Aksi Bailout oleh pemerintah AS dengan membeli Toxic Debt sebesar USD 700 billion ditanggapi dengan kejatuhan indeks dan dana tersebut seolah hanya meluap menjadi sunk cost. BEI pun kabarnya terpaksa menggelar rapat marathon bersama 30-50 pelaku pasar 10.30 WIB, Jumat (10/10/2008) di ruang galeri BEI, Jakarta.

Berikut ini akan saya lampirkan beberapa chart terakhir dari indeks harga saham dunia selama tiga bulan terakhir yang saya lansir dari Yahoo Finance : (Silakan di klik untuk memperbesar gambar)

Imbas dari krisis finansial global ini sangat mungkin merambah kepada potensi resesi ekonomi dan harga minyak dunia. Lihatlah pasar di Singapura, harga minyak jenis London Brent Crude untuk pengiriman bulan November ikutan turun US$ 3,58 menjadi US$ 79,08 per barel setelah pada hari sebelumnya mencapai US$ 82,66 per barel. Begitu pula di perdagangan New York Mercantile Exchange, harga minyak light sweet untuk pengiriman di bulan yang sama turun US$ 4,24 ke level US$ 82,37 per barel dari sebelumnya US$ 86,59. Nah, resesi ekonomi yang melanda Singapura ini bisa berimbas sektor perbankan nasional karena kerja sama Indonesia dan Singapura sangat erat di sektor ini.

Dollar Tembus Lima Digit?
Krisis finansial di AS juga telah memaksa sejumlah investor untuk “alih profesi” menjadi pemain dollar dan emas. Maka sangat tidak diherankan jika harga dollar dan emas justru menjulang. Hingga tanggal 10 Oktober, Dollar telah menembus harga Rp 9151,-. Dalam mengantisipasi lonjakan dollar yang luar biasa, BI melakukan langkah dengan memberikan kurs jual hingga Rp 10151 setiap dollarnya. Saya masih menanti, apakah spread yang besar ini mampu menggiring para investor di Indonesia untuk tidak bermain dollar. Yang jelas, tren menunjukkan kalau seluruh mata uang dunia melemah terhadap US Dollar, kecuali Yen (Jepang). Hal ini cukup wajar mengingat inflasi di Jepang sudah mentok, bahkan cederung negatif. Berikut adalah perbandingan tren nilai tukar US Dollar terhadap beberapa mata uang dunia : (silakan diklik jika ingin memperbesar gambar)

Satu kekhawatiran saya adalah ketika manuver yang dilakukan oleh BI dalam menjaga nilai tukar uang dollar terhadap rupiah tidak sanggup membendung ketidakpercayaan pasar. Lihat saja bagaimana sambutan pasar terhadap pemerintah AS yang telah membanjiri pasar mereka dengan uang sebesar USD 700 Milliar. Mungkin ada baiknya jika BI harus turut serta memangkas suku bunga acuan (BI Rate) yang kemarin justru dinaikkan ketika seluruh negara di dunia menurunkannya.

Salam,


Campaign

My Gallery

On Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

RSS The New Yorker

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS The Jakarta Post

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Blog Stats

  • 28,824 hits