Menyambut Ramadhan


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS: Al Baqarah 183)

Enfin, le Ramadhan est venu. Dire, bienvenue!! Sebuah bulan yang benar-benar ditunggu oleh umat islam di seluruh dunia, tak terkecuali kaum-kaum fasiq seperti saya. Ramadhan memang selalu menyisakan banyak cerita-cerita indah, seperti halnya harus membiasakan diri makan sahur jam 3 pagi (meski buat saya sudah biasa, berhubung saya hobby begadang), membiasakan menahan lapar dari terbit fajar hingga terbenam matahari (inipun saya nyaris sudah biasa, terlebih kalau akhir bulan).

Tapi setidaknya, ada beberapa hal menarik yang akan muncul pada saat bulan ramadhan. Kebiasaan beberapa masyarakat di Indonesia seolah berubah dalam bulan ini. Pertama adalah rating acara televisi. Seperti kita tahu, selama ini jam tayang yang dibilang prime-time adalah sekitar jam 7 malam hingga jam 9 malam. Pada jam-jam tersebut, biaya iklan yang harus digelontorkan oleh pihak sponsor tiap spot-nya adalah yang paling besar secara rata-rata. Tapi di bulan ramadhan, yang disebut prime-time bergeser di dua waktu, yaitu waktu berbuka dan sahur. Maka dari itu, jangan kaget jika dalam bulan ini sampean akan melihat Adzan Magrib yang memiliki sponsor, baik itu dalam bentuk product placement, maupun direct sponsorship. Dan bisa sampean bayangkan juga, betapa mahalnya menyeponsori program yang durasinya tak lebih dari 5 menit tersebut.

Yang kedua adalah naiknya harga-harga sembako. Para ekonom menyebutnya demand pull inflation atau inflasi yang ditimbulkan oleh permintaan masyarakat. Usut punya usut, para peserta puasa ramadhan ini umumnya cenderung lebih konsumtif di banding bulan-bulan sebelumnya. Puncak perilaku konsumtif ini terjadi pada saat Idul Fitri. Ini wajar mengingat banyak kalangan yang “memuliakan” bulan nan suci ini sehingga terkadang terjadi pesta-pesta kecil setiap berbuka puasa.

Yang ketiga adalah antrian untuk mendapatkan tiket mudik. Ongkos mudik, baik itu via pesawat maupun ojek, pastinya akan mengalami kenaikkan. Ada sebuah fakta menyebalkan mengenai penjualan tiket mudik. Pernah suatu ketika saya ingin pulang ke kampung saya di daerah Magelang, saya memilih naik bus malam. Dan sialnya, saya lupa sebuah aturan tak tertulis jika ingin pulang, saya mesti memesan tiket jauh2 hari. Dan saat itu, saya memesan tiket H-1 sebelum keberangkatan. Damn!! saya dikerjain sama okem-okem terminal yang bertindak sebagai calo dan menjual ke saya dengan harga nyaris dua kali lipat. Abis itu, saya mesti “dihadiahi” bus kecil yang jauh dari peri-kemanusiaan. Sempit, panas, dan mogok lagi!! WTF!!

Yang keempat adalah fenomena shalat tarawih. Sudah menjadi fenomena umum jika barisan masjid yang seperti film kolosal di awal ramadhan mendadak berubah menjadi barisan sinetron kuburan yang menggambarkan kekufuran masyarakat dengan sedikitnya jamaah shalat tarawih (halah). Well, jika sampean pergi ke masjid untuk shalat tarawih di hari pertama, anda mungkin merupakan salah satu dari golongan ini:

  1. Perpakin (Perhimpunan Pertamax Indonesia), mungkin anda ingin menggelontorkan stempel pertamax tarawih di masjid tersebut, tapi tetap saja, hanya satu orang yang bisa pertamax.
  2. Anak Gaul & Trendy, yups.. ketika adzan isya di awal ramadhan dikumandangkan, tarawih di hari pertama seolah menjadi tren yang harus dilaksanakan. Jika anda tidak tarawih di hari-hari awal, rasanya kok malu jika “dirasani” oleh tetangga. Padahal menjelang injury time ramadhan, hasrat untuk mengunjungi masjid semakin sempit.
  3. Golongan orang-orang beriman. Kalau yang ini no comment deh, kasih cendol aja!!

Itulah kurang lebih cerita-cerita yang biasanya selalu terulang di setiap bulan ramadhan. Ramadhan selalu indah dan riang, seperti apa yang selalu di dengungkan selama ini. Therefore, it is upon Muslims to rejoice at this great opportunity of doing good deeds. We should not neglect it, but instead be busy with what will benefit us and what will lead us to reap its everlasting fruits.

Terakhir, saya dan keluarga saya ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi sampean yang menjalankannya. Wish you all forgiveness from the bottom of the deepest inside. Mohon maaf atas segenap kesalahan, khilaf perbuatan/kata baik itu di dunia online / dunia nyata. Mugi-mugi tuwuh saking pangapunten sedoyo sedherek saged ndadosaken sampurnaning shaum kito sedoyo kangge hangarep-arep berkah soho rakhmah saking Gusti Alloh SWT..Amin Ya Robbal alamin.

Advertisements

1 Response to “Menyambut Ramadhan”


  1. 1 rams October 28, 2009 at 10:28 am

    sya senang kalo ramadhan. habis selesai ramadhan badan terasa sehat sih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Campaign

My Gallery

On Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

RSS The New Yorker

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS The Jakarta Post

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Blog Stats

  • 28,762 hits

%d bloggers like this: