Archive for March, 2009

VOC Are Going to Paris

VOC Team from University of Indonesia has been through to the international final of L’Oreal Estrat Challenge 9 after being the best in zone 8 (Central, South, & South-East Asia) with overall grade 84.3. Therefore, the team consists of Ronald Munaiseche, Fakhrul Fulvian, & Fajar Indra (Me) will chase the international title against seven other teams from Germany, Spain, Israel, Peru, Finland, China, & Canada. We have reached 2533 share price index in the end of period 6.We are the third team from FEUI that has been Estrat International Finalist. Q Managers team was the first winner of L’Oreal Estrat Challange 4. Meanwhile Concorde team was the third winner of L’Oreal Estrat Challenge 6.We will make a fight on international final at 22nd April in Paris, France.

We would say congratulation to Lotus team from Institut Teknologi Bandung for reaching the highest SPI in the world for undergraduate class. Wish us all the best to win this game. 🙂

**The International Semifinal Ranking is announced here

Is Corporate Value a Bull Shit?

Sebulan lebih sudah saya tidak menulis artikel dalam blog ini. Entah mengapa, bulan Februari lalu serasa menjadi bulan terpadat dalam kehidupan saya di tahun 2009. Dan akhirnya, di awal Maret ini, saya memiliki kesempatan untuk menulis lagi. Dan kali ini, saya akan menulis sebuah opini tentang sebuah permasalahan yang klise, akan tetapi sangat penting bagi saya. Sebuah opini tentang perlu tidaknya corporate value dari sebuah perusahaan dalam rangka mencapai tujuan akhirnya yaitu mencetak profit.

Segalanya diawali dengan sebuah perdebatan kecil antara saya dan teman saya ketika kami menyelesaikan penyusunan business plan untuk semifinal internasional L’oreal Estrat Challenge episode 9 beberapa waktu lalu. Teman saya menyeletuk, bahwa perusahaan itu diciptakan untuk meraih profit setinggi-tingginya. Itulah value yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Adapun slogan-slogan yang mereka buat adalah omong kosong belaka, atau lebih tepatnya hanyalah pemanis bagi perusahaan di mata konsumen, supaya lebih terlihat care dan akhirnya bisa ‘mengelabui’ konsumen dan meraih optimum consumer surplus. Benarkah demikian?

Memang, hampir semua buku teks ekonomi atau manajemen, perusahaan itu ‘katanya’ diciptakan untuk mengikuti motif ekonomi, yaitu meraih hasil yang sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Sebuah doktrin tua yang usang bagi saya. Saya lebih suka menyebut kata pengorbanan yang efektif dan efisien. Dan dalam hal ini, motif ekonomi itu adalah tujuan akhir, bukan nilai perusahaan itu sendiri. Well, pada akhirnya kami memang menyepakati, bahwa ‘omong kosong’ bukanlah term yang tepat untuk mendefinisikan posisi slogan sebuah perusahaan. Disini saya akan membahas, mengapa saya pribadi menolaknya? Ada beberapa alasan, yaitu:

  1. Profit maksimum adalah tujuan akhir, bukan jiwa yang dimiliki perusahaan. Saya membagi value dari sebuah korporat menjadi dua bagian, yaitu business value dan corporate value. Business value biasanya tercermin dari target profitabilitas yang mereka sasar, sementara corporate value adalah ibarat pedoman sebuah perusahaan untuk mencapai business value. Nokia dengan simbol “connecting people”-nya menyiratkan sebuah semangat yang luar biasa dari pihak korporatnya untuk menghubungkan orang-orang di seluruh dunia dengan produk yang mereka sediakan.
  2. Corporate value merupakan identitas perusahaan. So, what makes you different? Selama ini orang selalu terpaku pada diferensiasi produk atau brand. Namun mereka juga tidak boleh melupakan bahwa perusahaan juga harus memiliki diferensiasi. Jika anda berpendapat bahwa perusahaan anda memiliki value yaitu menciptakan lapangan kerja, meraih profit, dan bla bla bla, maka semua perusahaan di planet bumi ini juga memiliki value yang sama dengan perusahaan anda. Yang membedakan adalah how to get that profit. Proses untuk mendapatkan profit tersebut adalah jiwa dari perusahaan itu sendiri. Jiwa itulah yang akan menjadikan arah berjalan perusahaan anda, sehingga perusahaan anda tidak tersesat di tengah gurun kering berpasir tanpa air setetes pun.
  3. Corporate value membentuk budaya organisasi dalam perusahaan. Well, saya tidak mau terlalu banyak berteori disini karena artikel ini sendiri saya masukkan dalam kategori common sense. Namun penting untuk diketahui, bahwa corporate value adalah salah satu variabel yang dapat membentuk budaya perusahaan. Budaya perusahaan tentunya sangat penting untuk ‘ditentukan’ karena salah satunya dari variabel itulah, stabilitas internal dalam manajerial perusahaan akan dibentuk. Corporate value ini biasanya tertuang dalam bentuk visi dan misi yang akan menjadi motivasi sekaligus gairah perusahaan untuk meraih optimum profit.

Tiga alasan itulah yang kurang lebih membuat saya kurang sepakat jika ada orang yang menyebutkan bahwa slogan perusahaan adalah bull shit. Ini hanyalah pendapat pribadi saja. Kalau usut punya usut, saya lebih setuju mengatakan corporate social responsibility sebagai kegiatan bull shit perusahaan karena saya lebih menganggap kegiatan itu sebagai salah satu tools pemasaran perusahaan dibandingkan ajang ‘pencucian dosa’ perusahaan itu sendiri terhadap konsumennya.

Salam,


Foto diambil dari sini

Campaign

My Gallery

On Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

RSS The New Yorker

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS The Jakarta Post

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Blog Stats

  • 28,692 hits