Archive for October, 2008

Bicara Lagi Tentang Harga BBM

Bulan Juni lalu masih terekam hangat dalam benak saya mengenai pro dan kontra masyarakat tentang kenaikkan harga BBM oleh pemerintah. Pihak pro mengatakan, bahwa selain untuk mengurangi subsidi yang selama ini menjadi beban negara dan menghilangkan peluang arbitrase, apa yang mereka lakukan hanyalah mengikuti mekanisme pasar dimana dunia benar-benar dipusingkan dengan harga minyak yang melambung tinggi. Sementara yang kontra cenderung melihat bahwa daya beli masyarakat yang minim, akan terus tergerus dengan kenaikkan harga BBM ini, seperti apa yang diutarakan oleh sang profesor Erasmus University, Kwik Kian Gie. Saya sendiri saat itu berada dalam pihak yang pro kenaikkan harga BBM dan saya pernah menuliskan alasan saya disini, sebelum akhirnya mendapatkan sebuah tentangan dari seorang anonim yang mengaku bernama Dian Lanang dengan ke”ngotot”annya yang akhirnya justru membuat saya “ngecengin” dia.

Dan saat ini, harga minyak dunia justru sedang mengalami penurunan. Data yang saya lansir dari oil-price.net diatas menunjukkan harga minyak telah menyentuh kisaran US $ 70 per barrel karena turunnya permintaan minyak akibat resesi ekonomi global. Harga tersebut jauh dibawah harga internasional pada masa Juni, yaitu kisaran US $ 125 per barrel. Muncul sebuah wacana untuk menurunkan harga BBM. Wacana itu dimunculkan sebagai komparasi atas penurunan harga petroleum di AS yang mencapai kisaran Rp 7650,- per liternya. Selain itu, penurunan harga BBM dimungkinkan akan membuat sektor riil di Indonesia untuk kembali bergairah. OK lah, mari kita berandai-andai tentang penurunan harga BBM dengan sebuah ilustrasi yang sederhana dan sedikit common-sense dibawah ini.

Skenario 1, penurunan harga BBM dari sisi Mikroekonomi

Saat ini, harga premium sudah mencapai Rp 6000,- setiap liternya dikala harga ekuilibrium internasional yang mencapai ± Rp 11000,- per liter. Sudah barang tentu harga Rp 6000,- adalah harga BBM bersubsidi. Sementara harga pasar dunia telah turun ± 44% dari harga tertinggi bulan Juni. Harga BBM tak mungkin turun segila itu, karena hal ini bisa mengakibatkan goncangnya pasar di Indonesia. Taruhlah harganya turun kembali jadi Rp 4.500,- per liter, daya beli masyarakat pun akan kembali pulih dan sektor riil akan kembali bergairah untuk aktivitas produksinya. Pulihnya daya beli masyarakat juga bisa diartikan dengan meningkatnya pendapatan riil mereka, sehingga untuk barang normal, konsumsi mereka akan bertambah besar.

Bagi perusahaan, turunnya harga BBM berarti turunnya pula biaya produksi. Hal ini akan merangsang perusahaan untuk memproduksi output barang lebih banyak bukan? Hal inilah yang diharapkan pemerintah dan kita semua. Sektor riil berkembang dan lapangan kerja terbuka. Aktivitas produksi perusahaan tersebut serta merta akan mengembalikan permintaan agregat dari perusahaan terhadap minyak. Nah, jika sudah begitu, akibatnya adalah harga minyak bisa naik kembali.

Kembali ke sisi konsumen. Apakah penurunan harga minyak akan berpengaruh besar kepada inflasi? Saya pikir ya, namun tidak signifikan dan hanya sesaat saja. Ada beberapa alasan yang mendasari statement saya barusan. Kedua ilustrasi saya ini didasari oleh sebuah konsep mikroekonomi sederhana yang disebut dead-weight loss.

  • Perusahaan memang mendapatkan “keringanan biaya” dalam memproduksi barang. Namun saya kira, hal itu tidak serta merta merangsang mereka untuk menurunkan harga. Terutama pada barang yang sifatnya B2C (Business to Consumers). Penurunan harga BBM justru menjadi sebuah kesempatan untuk meraup surplus produsen yang lebih besar (dikala pendapatan riil konsumen naik). Karena mereka berkesempatan untuk memproduksi dengan biaya yang lebih rendah. Contoh konkritnya, mungkinkah pedagang warteg menurunkan harganya hanya karena BBM turun sedikit? saya pikir jika mereka menurunkan harga, mereka berada diambang kehancuran.
  • Struktur biaya terbesar perusahaan sebenarnya bukan pada biaya transportasi BBM, tapi adalah upah gaji karyawan. Nah, yang namanya gaji karyawan adalah variabel yang nyaris tidak mungkin diturunkan. Pun jika diturunkan, demonstrasi besar-besaran akan menghiasi macetnya ibukota. Alasan penurunannya logis, yaitu karena kebutuhan karyawan (seharusnya) lebih sedikit karena harga BBM turun. Namun hal itu nyaris tak mungkin dilakukan. Maka dari itu, berkurangnya harga BBM pun sebenarnya tidak terlampau signifikan dampaknya terhadap COGS sebuah barang (secara umum). Dan alhasil, penurunan itu tidak mengakibatkan turunnya harga jual sebuah barang.

Nah, dari sisi mikroekonomi dengan ilustrasi diatas, saya cenderung mengusulkan pemerintah untuk tetap bertahan di harga BBM saat ini.

Skenario 2, penurunan harga BBM dari sisi Makroekonomi

Untuk ilustrasi berikut, sebenarnya saya menggunakan logika berpikir saja. Dan maaf jika data-data yang saya sajikan tidak terlalu lengkap. Begini, saya melihat ada sebuah korelasi positif antara jatuhnya indeks harga saham Dow Jones dengan harga minyak mentah dunia. Alasannya simpel, resesi ekonomi global membuat industri lesu sehingga aktivitas produksi mereka menjadi minimum. Dan pada akhirnya, permintaan terhadap minyak pun menurun sehingga sangat wajar apabila harganya pun turun. Venezuela dan Iran adalah negara yang paling dipusingkan dengan kasus ini, karena mereka adalah eksportir minyak terbesar di dunia.

Namun apa yang terjadi jika pasar kembali bergairah dengan ditandai dengan meroketnya indeks harga saham di seluruh dunia? Aktivitas produksi pun akan kembali bergairah dan otomatis, permintaan akan minyak akan kembali ke titik normal. Saat ini, mungkin rebound terhadap indeks harga saham dunia belum begitu signifikan. Tapi dengan terpilihnya presiden baru di AS, kemungkinan akan terhembus sebuah harapan baru karena selama ini, kedua kandidat capres AS memang menyembunyikan kartu truf-nya untuk mengatasi krisis perekonomian demi kepentingan politik. Saya yakin, indeks Dow Jones akan kembali rebound ke titik normal karena bagusnya fundamental ekonomi AS. Maka dari itu, dengan kembalinya permintaan akan minyak membuat harga akan kembali ke level normal (harga ekuilibrium).

Nah, jika sudah begitu, kalau kita turunkan harga minyak sekarang, tentunya jika suatu saat minyak dunia kembali bullish, maka kita harus kembali lagi menaikkan harga minyak, dan para mahasiswa yang katanya bermodalkan intelektual itu akan kembali demo dan bikin macet di jalan. Pilihan yang sulit bukan?

Keputusan Pemerintah

Itulah sedikit ilustrasi sederhana tentang gonjang-ganjing harga BBM. Lantas bagaimanakah seharusnya pemerintah? Saya setuju dengan pernyataan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, ini keputusan politis. Sangat sulit untuk mengambil keputusan ini beserta resikonya. Bisa juga kan presiden SBY mengambil langkah politik untuk menurunkan harga BBM menjelang tahun 2009 ini? Tapi menurut hemat saya, sebaiknya Harga BBM jangan diturunkan. Intinya adalah, harga BBM ini cenderung akan terus naik hingga stok minyak dunia habis. Ini bukan masalah siapa yang untung atau rugi, tapi adalah perbandingan dampak yang dihasilkan dengan biaya sosial yang harus dikorbankan dengan penurunan harga BBM ini. Saya yakin, presiden SBY dan para menterinya tahu benar apa yang harus dilakukan.

Sekian ilustrasi sederhana dari saya, terima kasih.

Salam,

Advertisements

Dan Dunia Pun Menangis Karenanya

“kini ku sesali
nyata cintamu kasih
tak sempat terbaca hatiku
malah terabai olehku”
Tangga – Kesempatan Kedua

Beberapa minggu yang lalu, saya sempat menuliskan tentang goncangan besar yang melanda saham-saham Wall Street yang berpengaruh kepada krisis finansial dunia. Saat itu, dunia sedikit terguncang dengan kejatuhan indeks Dow Jones hingga level 11.122,77. Apa yang terjadi saat ini justru lebih parah. Aksi bailout yang dilakukan pemerintah AS disertai dengan pemangkasan suku bunga acuan tidak serta merta mampu mengembalikan kepercayaan pasar. Hal itu tercermin dalam kemerosotan tajam Indeks Dow Jones pada penutupan perdagangan saham Kamis waktu AS (8/11/2008) pada level 8,579.19. Sepanjang tahun ini Dow Jones telah jatuh hingga 30%. Hal yang sama juga terjadi pada IHSG yang terpaksa harus di-suspend rabu kemarin jam 11.08 WIB akibat penurunan dahsyatnya sebesar 10,98% hingga level 1,451.67. Sebuah level terendah dalam 28 bulan terakhir!

Tunggu, sebelum saya melanjutkan celoteh saya yang agak banyak mengandung unsur common-sense ini, saya ingin menerangkan tentang lirik lagu tangga & gambar wanita yang tercantum diatas. Jika anda menanyakan tentang korelasi kedua hal tersebut dengan tulisan saya, maka dengan lantang saya jawab ‘nggak ada’. Begini, akhir-akhir ini saya memang sedang gandrung sama grup vokal super-mellow asal Jakarta ini setelah sekian lama saya tidak mengikuti perkembangannya. Musikalitas mereka lumayan bagus, terlebih suara sang vokal mezzo sopran dari Nerra, salah satu vokalis cewek mereka, begitu indah & melankolis serta memiliki karakter suara yang sedikit mirip dengan Krisdayanti (untuk lagu ini). Harap dimaklumi karena dia merupakan ‘jebolan’ Elfa Secioria yang pernah ikutan Choir Olympic Elfa’s Secioria di Linz-Austria 2002 dan Olympic Elfa’s Secioria di Busan-Korea 2002. Selain itu paras cantik dari cewek 23 tahun ini bisa anda nikmati di foto diatas. I guess she has pretty cute face. Mungkinkah malaikat Ridwan yang tengah bertugas di surga terlelap dalam sekejap sehingga bidadarinya ada yang terpeleset jatuh ke bumi dan menjelma menjadi seorang penyanyi?

Kembali ke BEI. Hingga hari ini, BEI masih tutup karena gejolak pasar finansial dikhawatirkan akan semakin memperlemah indeks. Selain itu, perusahaan BUMN pun diminta untuk melakukan buy back di saat harga saham sedang jatuh. Kabarnya, aturan buy back saham pun akan diperlonggar yaitu bisa dilakukan tanpa melewati RUPS. Sungguh sebuah kepanikan yang luar biasa. Aksi Bailout oleh pemerintah AS dengan membeli Toxic Debt sebesar USD 700 billion ditanggapi dengan kejatuhan indeks dan dana tersebut seolah hanya meluap menjadi sunk cost. BEI pun kabarnya terpaksa menggelar rapat marathon bersama 30-50 pelaku pasar 10.30 WIB, Jumat (10/10/2008) di ruang galeri BEI, Jakarta.

Berikut ini akan saya lampirkan beberapa chart terakhir dari indeks harga saham dunia selama tiga bulan terakhir yang saya lansir dari Yahoo Finance : (Silakan di klik untuk memperbesar gambar)

Imbas dari krisis finansial global ini sangat mungkin merambah kepada potensi resesi ekonomi dan harga minyak dunia. Lihatlah pasar di Singapura, harga minyak jenis London Brent Crude untuk pengiriman bulan November ikutan turun US$ 3,58 menjadi US$ 79,08 per barel setelah pada hari sebelumnya mencapai US$ 82,66 per barel. Begitu pula di perdagangan New York Mercantile Exchange, harga minyak light sweet untuk pengiriman di bulan yang sama turun US$ 4,24 ke level US$ 82,37 per barel dari sebelumnya US$ 86,59. Nah, resesi ekonomi yang melanda Singapura ini bisa berimbas sektor perbankan nasional karena kerja sama Indonesia dan Singapura sangat erat di sektor ini.

Dollar Tembus Lima Digit?
Krisis finansial di AS juga telah memaksa sejumlah investor untuk “alih profesi” menjadi pemain dollar dan emas. Maka sangat tidak diherankan jika harga dollar dan emas justru menjulang. Hingga tanggal 10 Oktober, Dollar telah menembus harga Rp 9151,-. Dalam mengantisipasi lonjakan dollar yang luar biasa, BI melakukan langkah dengan memberikan kurs jual hingga Rp 10151 setiap dollarnya. Saya masih menanti, apakah spread yang besar ini mampu menggiring para investor di Indonesia untuk tidak bermain dollar. Yang jelas, tren menunjukkan kalau seluruh mata uang dunia melemah terhadap US Dollar, kecuali Yen (Jepang). Hal ini cukup wajar mengingat inflasi di Jepang sudah mentok, bahkan cederung negatif. Berikut adalah perbandingan tren nilai tukar US Dollar terhadap beberapa mata uang dunia : (silakan diklik jika ingin memperbesar gambar)

Satu kekhawatiran saya adalah ketika manuver yang dilakukan oleh BI dalam menjaga nilai tukar uang dollar terhadap rupiah tidak sanggup membendung ketidakpercayaan pasar. Lihat saja bagaimana sambutan pasar terhadap pemerintah AS yang telah membanjiri pasar mereka dengan uang sebesar USD 700 Milliar. Mungkin ada baiknya jika BI harus turut serta memangkas suku bunga acuan (BI Rate) yang kemarin justru dinaikkan ketika seluruh negara di dunia menurunkannya.

Salam,


Campaign

My Gallery

On Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

RSS The New Yorker

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS The Jakarta Post

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Blog Stats

  • 28,762 hits