Archive for September, 2008

"Islam", Betapa Menyebalkannya Dirimu

“Hey, this is God
Can I please have your attention
There’s a need for intervention
Man, I’m disappointed in what I’m seeing.”
Phil Vassar, This Is God

Lebaran sebentar lagi, film Laskar Pelangi pun telah serentak diputar di bioskop-bioskop seluruh Indonesia mulai kemarin. Saya agak kecewa. Maksud hati menonton perjuangan Ikal dan kawan-kawan di layar lebar, namun apa daya THR belum juga turun. Dan akhirnya, malam-malam indah yang sedikit ‘tumben’ karena nggak hujan, dihabiskan dengan cara menonton TV dan ‘sedikit’ melakukan perampokan di LP Margonda, yang baru-baru ini kembali underwater.

Sebenarnya, misuh ketika nonton TV show lokal adalah sebuah kegiatan rutin seperti halnya Shalat lima waktu. Ya, anda pasti mengerti lah, begitu banyaknya tontonan hewan yang bertebaran di layar kaca. Para Pencari Tuhan masih 4 jam lagi. Namun entah mengapa, perhatian saya terpusat pada sebuah berita yang lagi-lagi memberitakan kebrutalan tingkah laku FPI. Kali ini di Tasikmalaya. Seorang pedagang bakso diserang habis-habisan oleh para preman tersebut dengan alasan ia tetap berjualan di siang hari, tatkala umat islam sedang berpuasa. Modal yang dimiliki oleh pedagang semenjana itu pun ludes. Berita selengkapnya dapat dilihat disini. Saya juga pernah menuliskan uneg-uneg saya soal ormas yang nyaris tak ada bedanya dengan kaum nationalsozialismus alias Nazi tersebut disini.

Jujur, saya masih tidak habis mengerti mengenai apa yang dilakukan oleh rekan-rekan FPI. Maaf, bukannya saya ingin menggurui ataupun merasa yang paling benar. Tapi bagi saya, tindakan yang dilakukan oleh para makhluk yang menyebut diri mereka pembela islam tersebut sudah kelewat batas. Mereka benar-benar telah mencemari citra islam sebagai agama yang indah dan damai. Memang, ada sebuah hadist yang mengatakan jikalau tak bisa lagi diingatkan dengan cara lembut, sebaiknya pakailah cara yang keras.

Well, pikiran saya jadi terkonsentrasi pada terminologi kata keras. Bagi saya, ada bedanya keras dengan kasar atau brutal. Kasar itu keras, tapi keras belum tentu kasar. Contoh kecil ada dalam dunia sepakbola dimana Manchester United kemarin bermain keras saat berhadapan Chelsea di Stamford Bridge dan dihadiahi 7 kartu kuning oleh wasit. Sementara kasus tackle Mark Taylor yang membuat kaki Eduardo da Silva patah, merupakan tindakan brutal.

Begitu pula dengan FPI. Bagi saya, tindakan mereka itu sudah bukan dakwah lagi. Tapi hanya show-off semata bahwa eksistensi islam itu masih kuat. Is it worth?. Setahu saya, Muhammad SAW tidak pernah bermain kasar (apalagi brutal) ketika beliau berdakwah. Salah satu sabda beliau yang masih saya ingat kalau tidak salah berbunyi seperti ini:

“Sesungguhnya agama itu mudah”
HR Bukhari

“Mudahkanlah (kalian) berdua dan janganlah mempersulit, gembirakanlah (kalian berdua) dan jangan membuat (orang) lari”
HR Bukhari jugax

Ya, seperti itulah sabda Rasulullah ketika mengutus Mu’adz dan Abu Musa Al-Asy’ari ke Yaman untuk berdakwah diriwayatkan oleh Al Bukhari masing-masing kalau tidak salah pada kitab Al-Iman dan Al-Maghazi. Saya lupa dimana bab dan nomor berapa persisnya. Tapi setidaknya hal itu memperlihatkan bagaimana Muhammad SAW selalu menginstruksikan para ‘marketer’ agama itu untuk berdakwah. Begitulah yang selama ini saya tahu. Atau mungkin saya salah? semoga anda yang lebih tahu kebenarannya dapat memberi info kepada saya.

Sudahlah, saya merasa kurang kompeten jika harus berbicara seputar hadist. Mungkin para FPI itu lebih jago dari saya dalam hal hadist. Saya hanya akan memberikan pandangan sosial saja. Habieb Rizieq cs sudah harus sowan terlebih dahulu kepada pak Hermawan Kartajaya dan memahami apa itu marketing.

That’s it, dakwah itu sebenarnya bisa dianalogikan dalam konteks pemasaran. Yaitu memasarkan apa yang ada dalam otak kita, supaya diikuti orang lain. Bahasa gampangnya adalah pemasaran ide. Nah, kalau kita ingin memasarkan sesuatu, produk adalah variabel utama menuju kesuksesan. Untuk produk saya pikir tak ada masalah, jika memang yang dibawa adalah islam yang benar-benar islam.

Variabel lain yang tidak kalah pentingnya adalah konsumen alias target dakwah. Sang pendakwah hendaknya harus mengerti benar bagaimana cara menaklukkan target mereka dengan cara yang elegan. Tidak asal gebuk seperti preman. Ke-eleganan itulah yang akan menaklukkan hati konsumen. Coba lihat, bagaimana Deddy Mizwar dengan sinetronnya Para Pencari Tuhan.

Begitu pula masalah citra alias brand. Apa yang dilakukan oleh FPI benar-benar telah merusak citra islam. Ditangan mereka, opini tentang islam justru berkembang sebagai agama yang keras, goblok, preman, tidak toleran, memaksa untuk indifferent, dan menakutkan. Atau minimal sama seperti apa yang dikatakan seorang blogger muda Deathlock dalam artikelnya disini. Dan pada akhirnya, kehadiran islam selalu berdampak negatif bagi lingkungannya. Hal ini jelas jauh dari kata-kata damai. Bukankah tujuan orang beragama itu adalah untuk mencari kata damai?

Capek memang berbicara tentang sebuah klan yang telah terbungkus otaknya dengan rapi. Ya sudah lah, daripada bingung, tampaknya saatnya saya menjadi ‘seorang islam’. Seorang yang dogmatis yang selalu menyelesaikan segala sesuatunya dengan hukum agama. Begini, beberapa waktu lalu beberapa ‘orang islam’ menganggap bahwa rokok itu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Maka (kata mereka) solusi terbaik adalah haramkan rokok. Sepertinya FPI juga mirip dengan rokok.

Ya, saya tidak menafikkan bahwa ada manfaat yang timbul karena kehadiran mereka. Namun saya pikir, hal itu tak ada apa-apanya dibandingkan kesuksesan mereka merusak nama baik islam. Sori bos, ini bukan dunia Shakespeare, dimana nama tak ada artinya. Kalau sudah begitu, mungkinkan MUI mengharamkan gerakan FPI? I hope So !!! Mungkin dengan berkata seperti itu, selanjutnya jidat saya akan segera dicap dengan tiga huruf oleh makhluk-makhluk FPI yaitu kaf, fa, sama ra alias kafir!

Oia, terakhir saya ingin meminta maaf kepada rekan-rekan dari Manajemen 2005 karena nggak bisa menghadiri buka puasa bersama di Rumah Aya kamis kemarin. Tapi jujur, pengen banget gue makan makanannya T_T

Salam,



Banner anti FPI dari Antobilang
Gambar FPI yang lagi ngamuk diambil dari sini
Advertisements

Pesona Pencari Tuhan

Suatu hari seorang teman bertanya kepada saya, “Menurut lo, lebih tinggian mana kadar imannya, pencari tuhan dengan dalil-dalilnya yang sering ‘salah’, pembela agama tuhan dengan ke’fasis’an mereka terhadap agamanya, ataukah pendakwah agama tuhan yang kental dengan logat arabnya?”. Sebuah pertanyaan retoris yang kita semua pasti tahu jawabannya. Saya tertegun, sedikit berpikir, dan lantas tertawa. Yang saya tahu, logat arab tak berhubungan dengan tingkat keimanan seseorang. Kalau toh ada, mungkin koefisien korelasinya tidak lebih besar dari angka 0.02 saja dengan standard deviasi yang cukup panjang jikalau sang data terdistribusi secara normal.

Tepat, saya sedang berbicara tentang sebuah sinetron penghasil ‘kapitalisasi pasar’ terbesar selama bulan ramadhan ini yaitu Para Pencari Tuhan (PPT). Seperti apa yang dibilang mas wiki, PPT adalah sinetron kuis (sinekuis) Ramadhan berdurasi 1,5 jam yang ditayangkan setiap hari selama bulan Ramadhan 1428 H di stasiun televisi SCTV saat waktu sahur, mulai pukul 02:30 WIB. Sinetron ini diproduksi oleh PT Demi Gisela Citra Sinema dan disutradarai oleh Deddy Mizwar. AG Nielsen mencatat sinetron ini disinyalir mampu menggerus market share 24,9 %. Satu hal yang wajar jika para pengiklan mengantri untuk mendapatkan spot iklan dalam acara tersebut. Bagi saya, dari pada mengiklan disaat prime time jam 7 sampai 9 malam, mendingan mengiklan pada saat sahur karena kemungkinan keluarga menonton televisi jauh lebih besar di bulan ramadhan ini.

Saya pribadi takjub dengan fenomena deretan iklan yang ada dalam sinetron yang ‘sebenarnya’ cuma berdurasi ± 50 menit saja dari dua jam penayangannya di TV. Bayangkan, kalau perhitungan saya nggak salah, di setiap jeda segmen, ada sekitar 25 spot iklan. Jauh dibanding Cinta Fitri season 2 yang juga begitu sukses menggaet para pemasar untuk ‘menyumbang’ mereka. Cinta Fitri ‘hanya’ memiliki 15-17 spot iklan saja. Memang, saya adalah seorang fans berat Kang Deddy, karena si akang nyaris selalu berhasil menyuguhkan hiburan yang berkelas dan menarik bagi saya.

Lantas, mengapa acara ini begitu demikian suksesnya, hingga iklan pun rela berbaris layaknya kereta api argolawu? Jelas kekuatan mereka ada pada core produk-nya. Saya adalah seorang pembenci sinetron level akut karena bagi saya sinetron di Indonesia itu tak lebih dari sekedar tontonan hewan. Tapi PPT begitu berbeda. Apa yang membedakan PPT dengan sinetron-sinetron sampah lainnya yang begitu banyak beredar di TV?

Pertama adalah pada jalan ceritanya. Begini, kebanyakan sinetron di Indonesia sifatnya kejar tayang, sehingga skenario ceritanya pun ‘menodai’ tingkat artistik film itu sendiri. Contoh kecilnya adalah dalam film-film Rafi Ahmad, Velove Vexia atau si imut Baim. Begitu banyak adegan tidak penting yang tidak mempengaruhi isi cerita mondar-mandir di setiap scene-nya. Tujuan utamanya (menurut saya) adalah bukan untuk membuat cerita menjadi lucu, akan tetapi sekedar untuk memperpanjang episode saja. Nama terakhir akhir-akhir ini menjadi idola para sinetroners lebih karena wajah indonya yang imut, berhubung dia masih terlalu ‘junior’ untuk berakting.

Kedua pada isi dan pesan moral yang disampaikan dan tersampaikan. Mungkin para sutradara sinetron di Indonesia pada umumnya ingin menyampaikan pesan moral yang bagus dengan sedikit sentuhan humor. Tapi apa daya, justru penyimpangan yang terjadi terlalu besar. Bagi anda, yang tidak tinggal di Jakarta, saya memiliki pertanyaan. Apakah yang terlintas di benak anda jika saya menyebut frasa “anak jakarta”? Apakah terlintas di benak anda jika anak Jakarta itu hidupnya enak, konsumtif, gaul, trendy, stylist, dan banyak duit. Kalau memang itu yang ada, maka anda harus merehabilitasi diri anda karena virus sinetronicum telah mencapai stadium menengah (belum akut).

Coba kita lihat ke sinetron PPT. Justru pesan moral yang disampaikan (bagi saya) begitu mengena dan menyentuh. Pun pesan moral yang tersampaikan. Nyaris tidak ada unsur menggurui dalam cerita tersebut, meski terkadang tokoh Azzam (Agus Kuncoro) melakukannya. That’s it mereka mengajarkan islam dengan cara yang sederhana dan indah, tidak radikal, dan tak harus sweeping dan gebuk-gebukan setiap malam seperti apa yang dilakukan para laskar Front Preman Insyaf Pembela Islam. Tidak perlu terlalu banyak teori Al Qur’an yang diperlihatkan dalam berdakwah. Langsung saja ke prakteknya. Bagi saya, hal itu yang lebih menyentuh. Begitu pula dalam hal penyelesaian akhirnya. Mereka jauh lebih mengerti marketing management dalam berdakwah dibandingkan yang mulia Habib Rizieq cs yang… entahlah, saya malas mengatakannya.

Ketiga ada pada kekuatan karakter dari setiap tokoh. Bahasa gampangnya begini, setiap tokoh manusia dalam cerita tersebut benar-benar diberlakukan sebagai manusia, bukan malaikat yang selalu benar ataupun para iblis yang selalu jahat, meski tetap ada saja tokoh antagonis maupun semi-antagonis yang ‘ngeselin’ seperti Pak RW (yang juga merupakan gambaran birokrat di Indonesia), Pak Jalal ‘Jarwo Kwat'(gambaran perusahaan dan politikus di Indonesia yang selalu show-off dalam berbuat kebaikkan, maupun si Asrul (Asrul Dahlan) (si miskin yang terkadang keras kepala dan ber-ego tinggi). Hal ini sangat berbeda dengan sinetron di Indonesia lainnya yang pada umumnya memiliki tokoh yang sok baik, lembut, dan… pokoknya nyaris tanpa cela, serta tokoh yang jahatnya luar biasa. Bahkan kadar kejahatan sang tokoh biasanya bisa terlihat dari ekspresi muka yang sengaja dibuat licik.

Selain itu, satu hal yang paling saya suka disini adalah dimana peran tokoh utama yaitu Bang Jack (Deddy Mizwar), tidak terlalu sentral dan dominan. Sedikit berbeda dengan sinetron atau (bahkan) dorama Jepang. Coba anda lihat dorama Jepang (maaf), biasanya, tokoh utama sering show-off memberikan nasihat-nasihat secara direct yang rasa-rasanya justru terkesan bull shit, seperti dalam film Gokusen, My Boss My Hero, ataupun Shimokita Glory Days. Dan ketika sang tokoh tersebut memberikan ‘nasihat’ nya, pihak lain terpukau dan terdiam, seolah speechless dan tak bisa berkata apa-apa.

Keempat adalah pada gombalan mesranya. Jujur, saya sangat menyukai para tokoh dalam sinetron ini ketika mereka menggombal. Contohnya dalam dialog antara Ustadz Ferry (Akrie Patrio) dengan Istrinya, Haifa (Annisa Suci) dalam penggalan quote di bawah ini:

====

USTADZ FERRY
(Melihat istrinya yang terdiam sejenak, lantas berkata dengan nada seolah-olah panik)
“Hah, muka mama kenapa tuh, kok.”

HAIFA
(Agak kaget dan sedikit heran)
“Kenapa? nggak ada apa-apa kok. Papa nih kenapa sih?”

USTADZ FERRY
(Tersenyum dan mulai berekpresi genit)
“Nggak, muka mama kok kelihatan cantik banget ya.”

HAIFA
(Tersipu malu, muka sedikit memerah)
“Ah… papa..”

===

Setelah itu, saya hanya bisa berkata satu huruf saja dengan makhraj sedikit panjang, “O” Makhraj-nya pernah sedikit lebih panjang ketika mendengar bagaimana cara Azzam meminta maaf kepada Aya dalam PPT jilid 1 tahun lalu.

Itulah, setidaknya hal ini membuktikan bahwa bangsa ini masih menyukai sinetron yang memang diperuntukkan untuk manusia, bukan hewan. Memang, memerlukan waktu dan tenaga yang ekstra untuk membuatnya. Hanya saja, orang mungkin sudah tidak memiliki pilihan lain dalam berhibur. Hal ini terkadang menimbulkan pertanyaan pada diri saya, apakah telah terjadi ‘kartel‘ dalam hal membuat sinetron?

Salam,


Gambar PPT diambil dari sini
Gambar Gokusen diambil dari sini
Gambar si Bajaj diambil dari sini

Elegi Tengah Pekan

Memang, tak ada lagi yang lebih menyakitkan (bagi saya) di medio pekan ini selain tertahannya (kembali) para setan di Theater of Hell oleh pasukan marinir kuning Villareal tanpa gol. Kembalinya si setan ganteng Cristiano Ronaldo di menit ke 62 masih belum cukup untuk memecahkan deadlock yang ditimbulkan oleh anak asuhan Manuel Pellegrini tersebut. Hal ini semakin mempertegas penurunan drastis performa anak-anak setan di awal musim ini. Hal yang sama memang terjadi pada musim lalu sebelum akhirnya mereka menahbiskan diri sebagai tim terbaik eropa. Namun kali ini kejadiannya lebih parah, karena dalam lima pertandingan awal musim ini, anak-anak setan baru mencetak 4 gol saja! Masing-masing dua gol Darren Fletcher plus 1 gol Nemanja Vidic dan Carlos Tevez. Tak seperti biasanya, mereka tampil tanpa gereget di lini tengah. Hasil ini juga menyebabkan tiga pertemuan anak-anak setan dengan pasukan marinir kuning tersebut di ajang Liga Champions Eropa selalu berakhir dengan skor kacamata. Suatu fakta yang semakin menguatkan pendapat saya bahwa para setan masih memerlukan suntikan gelandang kreatif sekelas Wesley Sneijder ataupun Francesc Fabregas.

Itu adalah kabar terbaru dari kota Manchester. Sesaat kemudian, saya coba mengalihkan pandangan ke Jakarta. Rebound yang dilakukan IHSG dalam dua hari terakhir kelihatannya cukup menjanjikan. Dalam harga penutupan kemarin, IHSG sempat menguat 34 poin. Meski demikian, hal itu tidak lantas membuat pasar merasa tenang karena rebound yang terjadi pada IHSG diakibatkan oleh intervensi pemerintah pada saham-saham BUMN. Terlebih, saham-saham di Wall Street kembali rontok karena pelaku pasar khawatir badai di pasar keuangan belum akan berakhir meskipun telah ada upaya penyelamatan raksasa asuransi American International Group (AIG) oleh pemerintah AS. Sebagai gambaran, Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 449,36 poin (4,06 %) menjadi 10.609,66 pada hari rabu kemarin. Begitu pula apa yang terjadi pada Indeks Standard & Poor’s 500 dan Indeks Composit Nasdaq yang masing-masing turun 57,20 poin (4,71 %) pada 1.156,39 dan109,05 poin (4,94 %) ke posisi 2.098,85. Jika dinominalkan, kerugian total yang dicapai investor mencapai sedikitnya US $ 700 milliar![1]

Begitu juga apa yang terjadi pada mata uang Rupiah. Tekanan belum juga hilang karena semakin memburuknya pasar global. Pada perdagangan pagi ini pukul 07.45 WIB, rupiah ada di level 9.428 per dolar AS atau melemah signifikan dibanding penutupan Rabu kemarin yaitu 9.395 per dolar AS. “Rontoknya sejumlah perusahaan finansial dari AS merupakan faktor utama yang menyebabkan pelaku pasar kembali membeli dollar” begitulah statement yang banyak diungkapkan oleh sejumlah analis dalam kasus fluktuasi mata uang rupiah saat ini.

Tentunya peran BI akan sangat signifikan dalam badai krisis perbankan kali ini. Pihak The Fed (AS) hingga kini masih menahan tingkat suku bunga 2% demi menenangkan pasar. Apakah BI akan menaikkan tingkat suku bunga demi penguatan nilai mata uang rupiah dengan IHSG sebagai trade-off? Atau justru sebaliknya, BI akan meniru langkah Cina yang memangkas suku bunganya demi penyelamatan indeks harga saham? Percayalah saudara, beberapa hari kedepan akan menjadi hari-hari yang menegangkan dan terlalu seru untuk dilewatkan.

Salam,


[1] Sumber Data Dari Kompas
Foto adalah courtesy dari http://www.cartoonstock.com/

The Twelfth Black Monday

Suddenly, I feel aghast after surfing in the cyber world this evening. The world stock market crash news is the reason. When the energy crisis and global food crisis still being unsolved problem for mostly countries in the world, they are inflicted by investment & banking crisis. Then I run into 19th October 1987 when the same things occurred because the Dow Jones Industrial Average dropped by 508 points to 1739 (22.6%). That moment has been called as the black monday. Furthermore, at 28th October 1929, the world was shaken by devastating of stock market in United States. That moment was called not only black monday, but also Wall Street Crash of 1929. And now, the twelfth Black Monday has come! Continue reading ‘The Twelfth Black Monday’

Sulitnya Menjadi Manusia di Indonesia

Di dalam artikel ini akan anda dapatkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan.

Dalam sebuah kesempatan pada kuliah Perekonomian Indonesia beberapa waktu lalu, sang dosen yang juga merupakan guru besar ekonomi Profesor Dorojatun Kuntjarajakti pernah mengatakan bahwa jika dalam sebuah negara yang maju, maka semua aspek yang berkaitan dengan negara tersebut, mulai dari aspek politik, ekonomi, budaya, olahraga, dan (bahkan) kriminal pun serta merta akan maju. Begitu pula yang terjadi di negeri bar-bar, segala sesuatunya pun akan menjadi bar-bar. Dan tampaknya, statement terakhir Pak Djatun berlaku di Indonesia. Betapa tidak, segala sesuatu yang terhubung dengan bangsa ini menghadirkan sebuah kesan yang buruk. Mulai dari sisi politik, ekonomi, bisnis, sosial, hingga olahraga. Tak terhitung lagi berapa kali kegagalan republik ini dalam mengarungi kehidupan.

Dari segi bisnis misalnya, dalam survey “Doing Business 2009” yang dilakukan oleh International Finance Corporation baru-baru ini, Indonesia menempati urutan ke 129 dari 181 negara di dunia yang di survey dalam hal kemudahan mambangun dan menjalankan bisnis. Hal ini jauh dari pencapaian negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia yang masing-masing berada di peringkat 13 dan 20 dunia. Singapura? apa lacur, mereka justru berada di rangking 1 dunia. Diatas Selandia Baru dan Amerika Serikat. Peringkat selengkapnya bisa dilihat disini. Disinyalir, hal ini terjadi karena birokrasi di Indonesia yang jauh dari kata efisien dan sebuah peraturan tentang persyaratan modal disetor minimum yang tercantum dalam UU no 40/2007 tentang Perseroan Terbatas. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa persyaratan mendirikan usaha baru memerlukan dana minimum Rp 12,5 juta atau naik Rp 7,5 juta dari UU sebelumnya. Menurut Perwakilan IFC untuk Indonesia Adam Sack, aturan Indonesia ini lebih tinggi 100 persen dibandingkan Kawasan Asia. Di satu sisi hal ini memang sangat baik untuk meminimalisir resiko solvabilitas yang ada, namun disisi lain hal ini juga menghadirkan barrier to entry bagi para pengusaha “nanggung” yang memiliki modal pas-pasan untuk menjalankan bisnisnya. Maka, jangan heran jika sektor riil di Indonesia tidak berkembang seperti jalan tol.

Lalu dari sisi politik. Terus terang saya kurang suka membahas sisi yang satu ini. Bangsa ini masih bar-bar dalam hal berpolitik. Tidak ada kata elegan dan altruistik dalam kamus para politisi. Bahkan saya cenderung berpikir, bahwa orang yang mengambil jalur politik ini hanyalah orang-orang yang gagal di jalur profesional. Kejadian memalukan seperti insiden penyerangan sepihak karena kalah dalam bertarung sudah merupakan hal yang umum. Memang, sabda sang nabi besar John Forbes Nash alahis salam tentang Prisoner’s Dilemma menyebutkan bahwa kita tidak boleh percaya pada semua pihak. Namun apa jadinya jika setiap keputusan yang ditelurkan oleh sebuah instansi itu dianggap dipolitisasi? Coba anda lihat dua kasus terbaru dari Gus Dur dalam “sengketa PKB-nya”[1] dan Fraksi PDIP yang kalah dalam pilwagub Sumatra Selatan[2]. Mereka semua adalah contoh manusia katrok yang nggak bisa dengan lapang dada menerima kekalahan. Tidak ada lagi wajah pahlawan seperti Hillary Clinton yang justru mengakui kekalahannya dengan sportif dan malah membantu Barack Obama untuk menjadi calon presiden AS.

Dari sisi Olahraga lebih menjengkelkan lagi. Lihatlah, betapa “hebatnya” Indonesia ketika berhasil menjuarai Piala Kemerdekaan beberapa waktu lalu. Ya, jangankan untuk berprestasi, untuk sekedar bermain bagus dan sportif saja tidak bisa. Kerusuhan disana-sini, pelanggaran keras berupa tackling yang benar-benar mematikan masih sering terpampang di layar kaca. Belum lagi kelakuan si bangsat Nurdin Halid bersama (maaf) para anjing-anjing penjilatnya seperti Mafirion dan Nugraha Besoes di organisasi PSSI. Anda pasti sudah tahu bahwa sanga ketua PSSI Nurdin Halid masih memimpin PSSI meskipun sekarang ia tengan dipenjara akibat tersandung kasus penyulundupan gula impor ilegal, dan korupsi dana pengadaan minyak goreng juga impor beras Vietnam yang dilakukannya tahun 2004 lalu. FIFA sudah memperingatkan PSSI untuk segera mengganti ketuanya, namun apa daya, alih-alih mengganti sang puan, PSSI justru melakukan manuver untuk mempertahankan sang puan Nurdin di tampuk kepemimpinan. Kabar terbaru mengatakan bahwa puan bisa mengajukan diri lagi![3] Bayangkan, organisasi sebesar PSSI dipimpin oleh seorang narapidana. Bagaimana bisa maju ?

Dari sisi sosial dan hiburan, pengaruh sinetron di Indonesia sedemikian besarnya kepada jiwa anak-anak muda jaman sekarang. Saya memiliki tetangga seorang artis figuran, dia bahkan rela mengorbankan kuliahnya demi karier di dunia akting. Bukannya saya menyalahkan hal ini, tetapi opportunity cost yang besar dalam bentuk menuntut ilmu telah hilang. Coba anda lihat Cina dan Malaysia, mereka sangat concern terhadap perkembangan pendidikan. Tahun 90an awal, mereka masing-masing masih merupakan negara berkembang dan negara dunia ketiga. Sekarang? Mobilitas vertikal telah terjadi sedemikian cepatnya dalam dua negara tersebut. Yang justru menjadi negara dunia ketiga sekarang adalah Indonesia. Lihat saja, sinetron-sinetron katrok dan konyol justru laku keras di Indonesia, acara-acara yang mengandung unsur informasi malah kesulitan mencari iklan. Ya, kualitas acara yang ditonton memang mencerminkan kualitas penontonnya bukan? Harus diakui, bangsa ini menggunakan TV hanya untuk hiburan semata, tidak seperti bangsa Jerman maupun AS yang memposisikan TV sebagai sumber informasi.

Hmmm… sebenarnya masih banyak lagi kekecewaan saya terhadap bangsa ini yang jika saya tulis bakalan panjang sekali. Akhirnya saya mengerti, mengapa para cendekiawan selevel BJ Habibie tidak akan pernah tumbuh lagi di Indonesia. Sekali lagi, saya setuju dengan Pak Djatun, Jika sebuah negeri itu bar-bar, maka semua aspeknya juga akan menjadi bar-bar, dan itulah Indonesia. Huh, memang sulit menjadi manusia maju di Indonesia. Dan buat kakak saya yang sudah mulai kedinginan di Hamburg, “Akhirnya aku ngerti banget, mengapa sampean memilih istri dari Finlandia, hehehehe”

Salam,


[1] http://news.okezone.com/
[2] http://news.okezone.com/
[3] http://www.detiksport.com

Gambar diambil tanpa ijin dari Antobilang

Sedikit Tentang Pilpres 2009

Yups, sebentar lagi tahun 2009 terbuka. Calon-calon mulai berkampanye untuk membuat dirinya populer. Janji-janji bull shit sudah mulai tertebaran dimana-mana. Iklan-iklan yang berisi peningkatan popularitas juga mengikuti layar kaca. Semuanya kelihatan bagus, sehingga sulit bagi kita untuk membedakan, mana yang jelek dan mana yang jelek sekali.

Jujur, saya tidak pernah percaya jika seseorang yang menjabat pos tertentu di pemerintahan adalah titipan dari partai tertentu, karena selain dimungkinkan adanya praktek dagang kebo, sampai sekarang saya masih mengklaim bahwa utusan partai, pasti kerjanya nggak bener. Coba kita lihat di kabinet yang ada sekarang. Menteri yang mendapatkan penghargaan dan kinerjanya memang bagus (menurut saya) justru datang dari kalangan profesional. Terlebih jaman sekarang, demam politik juga sudah merambah artis, seperti apa yang digambarkan senior saya lewat karikatur uniknya disini.

Nama-nama calon sudah ada dari semua golongan, dari yang tua seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto, Megawati Soekarnoputri, & Jusuf Kalla sampai yang mengaku muda seperti Sutiyoso, Prabowo Subiyanto, Soetrisno Bachir, dan Rizal Mallarangeng. Dari yang mantan menteri yang sekarang sudah banting setir jadi aktor film seperti Yusril Ihza Mahendra sampai pekerja seni komersial yang ingin banting setir menjadi politisi seperti Ratna Sarumpaet (would you believe it?)

Memang, tak semua dari mereka akan benar-benar maju. Mungkin ada juga yang menggunakan moment pilpres ini sekedar promosi diri. Ya sudah lah, saya pun tak mau ambil pusing dengan kondisi ini. Karena saya sudah kadung nggak percaya dengan bacot para politisi, entah siapapun orangnya, meski dia dari partai islam yang mengaku anti korupsi sekalipun. Bukan hanya moralnya, tapi juga kemampuannya. Saya setuju dengan Bang Gopar. “Saya muslim, tapi jangan paksa saya menyoblos partai muslim.”

Saya nggak mau terlalu berkata banyak. Kita lihat saja nanti. Nah, pesan saya buat wong cilik, santai saja, nggak usah terburu nafsu untuk membela siapa yang benar. Nggak usah capek-capek kampanye karena toh sampean akan ditendang juga. Mendingan kita ambil saja eksternalitas positif atas adanya pilpres 2009. Bakalan banyak proyek yang mampir ke kita, seperti survey mendadak dengan bayaran 500 ribu dua hari, atau bisnis sablon dan kaos-kaos partai. Moment yang pas buat berbisnis bukan?

Lantas, bagaimana kalau ternyata presiden yang terpilih 2009 justru presiden yang tidak mumpuni dan cuma menang simpati dan popularitas semata? Gampang. Justru itu adalah kesempatan kita untuk menjadi kaya mendadak. Lho, kok bisa?

Begini, sampean tinggal beli dollar sebanyak-banyaknya. Kalo perlu di-rush juga nggak apa-apa. Sampean bakalan untung. Soalnya, keesokkan harinya dollar akan kembali menguat karena kinerja presiden kedepan yang payah. Taruhlah anda beli dollar seharga Rp 9500,- setiap dollarnya tahun 2009. Siapa tahu karena presidennya payah, dollar tahun 2010 jadi Rp 11.000,- dan 2011 jadi Rp 12.000,-. Nah, kalo begitu sampean kaya kan? Mari menabung untuk membeli dollar.

Salam,


Gambar diambil tanpa ijin dari berbagai sumber. Diedit alakadarnya menggunakan powerpoint

Transfer Mengecewakan Red Devils

Akhirnya, setelah dibuka 1 Juli lalu, bursa transfer musim panas sepakbola eropa tahun ini resmi ditutup malam tadi. Dua transfer besar mewarnai penghujung agenda transfer, yaitu hengkangnya sayap elegan Robinho dari Real Madrid ke Manchester City seharga £ 32.5 juta serta Dmitar Berbatov dari Tottenham Hotspur ke Manchester United seharga £ 30.75 juta. Kedua pemain tersebut berhasil menembus jajaran 10 besar transfer termahal di dunia sepanjang sejarah. Nama pertama bahkan adalah transfer termahal dalam sejarah Liga Inggris. Daftar 14 pemain termahal di dunia bisa dilihat disini.

Bisa kita lihat, bagaimana kekuatan uang sangat mendominasi perburuan pemain bintang. Bahkan bintang sekelas Robinho saja, bersedia hengkang ke klub yang “tidak jelas” seperti Manchester City. Memang, The Citizen telah menjadi kaya secara mendadak ketika klub ini diakuisisi oleh Abu Dhabi United Group dari tangan mantan diktator Thailand, Thaksin Shinawatra. Bahkan berbagai media di Inggris santer menyebutkan bahwa The Citizens akan menjadi Chelsea yang baru, alias klub bergelimang bintang.

Kehadiran The Citizens sebagai kuda hitam Liga Inggris musim ini memang patut diperhitungkan selepas transfer briliannya terhadap Robinho. Nyaris semua pesaing Manchester United di Liga Inggris (kecuali Liverpool) melakukan transfer yang brilian musim ini, baik dalam hal membeli pemain maupun menjual pemain. Justru, saya sangat kecewa dengan hasil transfer yang dilakukan Sir Alex Ferguson yang menurut saya sangat tidak pas. Keputusan merekrut Dmitar Berbatov (27 tahun) adalah puncak kekecewaan saya terhadap Red Devills. Selama ini, saya selalu berpendapat bahwa bursa transfer itu adalah awal dari perjalanan sebuah tim untuk merengkuh gelar juara. Sama halnya dengan registrasi on-line di kampus saya.

Mengapa saya kecewa dengan transfer yang telah dilakukan United? Karena dua hal, boros dan tidak taktis. Boros karena bagi saya, pembelian Berbatov dengan harga £ 30.75 juta itu terlalu berlebihan. Mungkin United terjebak oleh permainan tarik ulur yang selama ini memang diperagakan pihak Spurs. Saya memang menaruh respek pada Berbatov yang telah membuat 121 gol dalam 274 pertandingan profesionalnya bersama Tottenham, CSKA Sofia, dan Bayer Leverkusen karena dirinya memang seorang striker yang komplit, seperti halnya Zlatan Ibrahimovich. Namun bagi saya, harga yang pantas bagi Berbatov ada pada range £ 20-24 juta, itupun sudah menghitung harga pasar yang rusak akibat transfer bodoh Robbie Keane oleh Liverpool seharga £ 19 juta (ditambah £ 3 juta, tergantung penampilan). Memang, Red Devils sangat membutuhkan striker pasca hengkangnya Louis Saha ke Everton, namun dengan harga setinggi itu, sulit di terima akal. Saya justru khawatir Berbatov akan menjadi Ruud van Nistelrooy kedua ketika seluruh permainan bakal tersentralisasi kepadanya. Transfer Berbatov sendiri menyisakan berbagai kontroversi.

Selain boros, saya juga menyesali sikap Fergie yang berkeras untuk tidak menambahkan satu gelandang serang yang kreatif sebagai alternatif ketika sang bintang Cristiano Ronaldo harus absen. Harus diakui, meskipun Red Devills terkenal dengan permainan kolektifnya yang memukau, tanpa CR7 mereka bagaikan setan ompong. Empat pertandingan awal dengan total 3 gol yang dihasilkan, masing-masing 2 gol oleh Darren Fletcher dan 1 gol oleh Nemanja Vidic adalah suatu hal yang tak terbantahkan. Paul Scholes dan Ryan Giggs sudah termakan usia, Nani masih belum bisa menunjukkan kedewasaannya. Sementara Anderson sangat labil karena masih terlalu muda. Fletcher? kualitasnya masih jauh dari harapan. Saya sangat memimpikan pemain sekelas Wesley Sneijder atau Bastien Schweinsteiger bisa bergabung dengan skuad Old Trafford, tapi semua hanyalah mimpi.

Doa saya adalah, semoga Berbatov bisa berperan sebagai goal getter bagi MU musim ini. Suatu peran yang dijalankan oleh Cristiano Ronaldo musim lalu. Apapun itu, I’d say,’Welcome to the Theater of Hell, Dmitar!’


Foto Berbatov Courtesy dari situs http://www.telegraph.co.uk/

Campaign

My Gallery

On Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

RSS The New Yorker

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS The Jakarta Post

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Blog Stats

  • 28,762 hits