Archive for July, 2008

Kecil-Kecil Kok Sudah Jadi Jawa

Begitu mantra ganjil yang selalu dirintihkan. Diucapkan dengan mendayu-dayu bak artis sinetron lagi belajar main drama. Seakan-akan semakin melodius rintihannya, akan mempertinggi omset recehan ringgit yang diterimanya. Awalnya, geli juga Mas Celathu melihat modus “kreatif” manusia Jawa ini. Tapi cuma sesaat. Rasa gelinya tiba-tiba membuat dirinya gusar, setelah mendengar celoteh canda sekelompok lelaki berkulit kuning langsat dan bermata sipit yang ada di situ. Jika diindonesiakan, guyonan itu kira-kira bunyinya begini.

“Kasihan anak itu ya,” kata salah seorang sambil menunjuk bayi yang ada di gendongan ibu pengemis.

“Emang kenapa? Dia kan tampak sehat,” jawab temannya.

“Bukan begitu”.

“Terus kenapa? Karena masih bayi diajak mengemis?”

“Juga bukan”.

“Trus, kenapa emangnya?”

“Kasihan banget dia tuh. Kecil-kecil sudah jadi orang Jawa”.

“Hua ha ha…ha ha ha…,” tawa mereka meledak. Orang-orang Melayu yang mendengar tanpa sengaja pun, juga ikut cekakakan. Tapi Mas Celathu tidak. Yang meledak dalam dirinya adalah keterhinaan dirinya sebagai orang Jawa. Dalam canda ini ras Jawa bagai telah dinajiskan. Benar-benar terhina, direndahkan lebih rendah dari kaum paria. Tadinya sih Mas Celathu ingin meledakkan amarahnya saat itu juga. Tapi setelah melirik kiri kanan ditatapnya puluhan lelaki kekar yang pada tertawa, langsung saja ngeper-nya yang keluar. Dasar jirih. Dia telan lagi amarahnya. Lalu segera kabur sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Tulisan yang dicetak biru diatas adalah kutipan dari tulisan Kang Butet Kartaradjasa dalam artikelnya yang bertajuk Tiga Shio. Paling nggak, tulisan itu bikin saya ketawa setengah idup lantaran otak sudah “umop” bikin “prospektus” tentang Bumi Resources. Sebuah tulisan dan guyonan yang dahsyat disertai sebuah sindiran tentang bangsa jawa. Sebenernya lagi males ngomentarin apapun tapi dipaksa oleh seseorang untuk mengomentari yang satu ini, apa daya, saya tertawa sampai terkencing-kencing, lha priye, “wong jowo kok seneni..”



Disclaimer :
Tulisan yang berwarna hitam ditulis nggak pake otak
Tulisan tersebut ditulis lantaran penulis lagi setres berat dikejar deadline...
Advertisements

Seniman Pengecer Cangkem

Sopo sing ra kenal karo Butet Kertaradjasa, seniman Jogja sing level kejawaane ki dahsyat kae. Saben njedhul neng media, tindak tanduk’e ki pancen mencerminkan tenan nek dheweke kuwi wong jowo. Bahkan nek didelok seko carane le njeplak (waca: ngomong) kuwi mesti enek embel-embel boso jowone. Contone dialog sing tak comot seko sawijining adegan ning acara Kerajaan Mimpi ning Metro TV, pas jaman-jamane reshuffle kedua pak SBY. Adegan kuwi dilakoni pas Kerajaan Mimpi arep “berevolusi” dadi republik meneh. Sang Raja, SBY (Si Butet Yogya), sing isih “didaulat” dadi rojo, kon lengser keprabon dadi presiden meneh. Aku nonton karo mbokku nek ra salah gek kae. Kurang luwihe tulisane muni ngeneki :


PRESIDEN SBY (Si Butet Yogya) — Sebagai Raja
“Jadi,saya putuskan bahwa reshuffle ini, ditunda dalam waktu yang tidak ditentukan”

(Sak ruangan do ribut kabeh, terus Harun Al Jaim, Menteri Hukum angkat bicara)

HARUN AL JAIM
“Ndak bisa lah itu, dimana-mana waktu buat menunda keputusan harus jelas, ndak ada itu, ndak ada…”

PRESIDEN SBY
“Yo sak karepku ‘ok… Wong Raja ‘ok..”
(Nganggo Logat Jowo lho yooo…)

Bar kuwi mbuh napa aku kok njur ngekek-ngekek kemekelen nganti koyo arep modar kae . Nek bosone guru agamaku pas SD biyen : ‘Lucu Gila Hi Ta’al’a (Ups… no protests!!!), trus bar kuwi, terucap kata “bosoooookkkk” seko lambeku, pancen Singo tenan kok kang Butet kiy. Kombinasi boso Jowo karo Indonesia-ne ki gurih tenan kae, segurih Indomie Goreng.. Mungkin nek ning bahasa Inggris kuwi dikenal istilah “American-English”, nek ge kang Butet, enek istilah “javanese-Indonesian” alias boso Indonesa-Jowo.

Kemampuanne kang butet leh’e mengolah kata-kata diduduhke neng blog-e seng judule “Pengecer Cocot Cangkem”. Neng kono, kang Butet nganggo point of view Mas Celathu, wong ndeso seng hobine njeplak. Boso seng di enggo kuwi boso Indonesia-Jowo. Salah siji kata-katane seng tak senengi koyo ngeneki:

“Ada pula mayat abnormal. Matinya tidak konvesional. Maksudnya, berubah status menjadi “mantan manusia” karena kecelakaan atau dicelakai. Misalnya dicelakai perampok yang sangat bengis. Atau dirajang-rajang jadi korban mutilasi oleh partner homoseks.”
Butet Kertaradjasa – Panen Mayat

ngerti ra nopo aku ngakak, delokno kata-kata seng kedhap-kedhip neng quote ndhuwur kuwi. Di rajang-rajang ki kan bosone daging karo janganan. Dadi, dirajang-rajang kuwi boso Indonesia-ne dipotong kecil-kecil. AKu mbayangke nek kata-kata kuwi metu seko cangkeme kang Butet disponsori karo logate seng ngono kae… mesti lucune na’udzubillah
Tanpa mangsud mbandingke, aku luwih seneng guyonane kang Butet, mbangane guyonane mas Thukul. Nek menurutku, guyonane ki cerdas lantaran dipengaruhi karo seni peran seng apik. Liyane kuwi, kang Butet kuwi ngomong bak pakar lingusitik, dheweke ngerti kapan kudu serius, ngomong dengan EYD, lan kapan kudu njeplak nganggo boso jowo. Kang Butet mung siji seko macem-macem budoyo Jowo seng iso kudu dilestarikan. Kang Butet kuwi ra tau minder opo isin nek dheweke ki medhok tenan Jowone. Bahkan, dheweke selalu menyertakan unsur Jowo neng saben pertunjukkane. Kuwi bedo tenan karo mas-mas neng Mangga Dua seng sok-sokan mekso ngomong “gue-lo”, padahal logate mung feasible ge ngomong “nyong-nyongan”


Disclaimer:

1 Tulisan Ini Menggunakan Bahasa Jawa Sak-Sak’e, ditulis lantaran penulis sudah kebelet ingin nulis dalam Bahasa Jawa dan males belajar Boso Kromo Inggil
2 Blog-ke kang Butet iso diragut (mbuh ki boso ngendi asline, neng lemuni artine browse) neng link : http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/
3 Gambar tak colong seko kene lan kene

The Complicated Problems of Insurance

The Problems

Insurance industry is one of the business way that initially supposed to be one of the most prospective industry in Indonesia since the country have large people population. However, in the process of the industry, there are many problems which has been attached. Start from the market structure problems, until the customers’ ones.

First, there are over supply phenomenon between insurance producer and the consumers. Whereas, Indonesia with the population until 220 million people should be an affluent market to grow. So, what’s the problem? The affluent market has convoked may players to play within. So, the players is too many, and they just become minor companies so that they get difficulties to expand their operations. As we know, the market leader here only have 12,08% market share.

Continue reading ‘The Complicated Problems of Insurance’

Let's Talk About The Oil Price in Indonesia

Yesterday, my friend showed me about the Kwik Kian Gie’s article about his counter statement against the increasing of fuel price in Indonesia, last June. The same things has been shown by Professor Kwik in Aula Setyaningrum, University of Indonesia 4 years ago. I don’t know, is Mr Kwik speaking up as an economist or politician. The Mr Kwik’s article can be read in here. He said that we still have profit although the world oil price has been raised since we have our own oil reserve and it can be sold with low price (moreover, it can be free). We just have to spend the production costs to make the raw oil materials into finished good like premium, pertamax, etc. Instead of sold to another countries, the oil should be retained to fulfill our needs. So, the government still can subsidize the civilians. It looks like a good idea, right? But for me, Mr Kwik opinion doesn’t make sense.

Continue reading ‘Let's Talk About The Oil Price in Indonesia’

Kenapa saya suka Gita Gutawa?

Sebelumnya, saya ingin mengutip salah satu lirik penyanyi pujaan saya yang ini:“your head up high
smile on your face and wish
that you will always be loved
the stars will lead you every step you take
don’t you ever be afraid
believe in you
and I’ll be there to guide you wherever you may go
thank you for your love, forever”
(Your Love)

well, banyak orang yang bilang saya itu “pedo” alias pedofil gara-gara ngefans berat sama manusia yang satu ini, but seperti apa yang anak gaul bilang “so what gitu loh…” saya pun cuek.

Ada beberapa hal yang membuat saya “jatuh hati” sama cewek kelahiran 11 Agustus 15 tahun silam ini. Mau tahu alasannya? Nih… alasannya:

Karena dia tuh Indonesia buanget!!! Nggak sedikitpun ada di mukanya tampang orang indo dan sejenisnya. Sori ya, bukannya bermaksud rasis. Tapi emang gue nggak prefer sama tampang-tampang indo kayak Asmirandah ataupun Cinta Laura

Dia tuh terkenal lebih karena prestasinya, bukan karena popularitas di media gosip (baca:infotainment). Dia nggak perlu melakukan diferensiasi logat ataupun pacaran sama artis ternama untuk membuatnya terkenal. Nama Gutawa dibelakangnya emang ngaruh, tapi itu hanya sekedar buat ”tiket masuk” aja. Mau tahu apa aja prestasinya? Klik aja di wikipedia.

Karakter suaranya khas banget. Sampai sekarang gue nggak pernah tau ada orang yang nyanyiin ulang lagu dia di Indonesian Idol. Cukup dimengerti lah, nggak sembarangan orang punya oktaf setinggi dia. Terlebih, karakter lagu-lagunya sangat mendukung karakter suaranya. Gue yakin banget dia bisa go international kayak Anggun kalo penggarapannya bener dan serius.

Begitu pula dia punya kelakuan di depan kamera. That’s cool, dia kelihatan dewasa banget untuk gadis seumurannya. Dia pinter banget ngolah kata-kata yang bikin dia kelihatan diplomatis.

Hanya memang saya menyayangkan satu hal, kenapa sih dia harus main sinetron? Kalo orang cerdas minum tolak angin (pesan sponsor…), berarti orang cerdas nggak maen sinetron dong? (sori… untuk yang satu ini saya mengesampingkan dunia ekonomi & marketing) T_T

Semoga di masa yang akan datang engkau masuk FEUI adik kecil yang manis… :”>


Campaign

My Gallery

On Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

RSS The New Yorker

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS The Jakarta Post

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Blog Stats

  • 28,762 hits