Di dalam artikel ini akan anda dapatkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan.
Dalam sebuah kesempatan pada kuliah Perekonomian Indonesia beberapa waktu lalu, sang dosen yang juga merupakan guru besar ekonomi Profesor
Dorojatun Kuntjarajakti pernah mengatakan bahwa jika dalam sebuah negara yang maju, maka semua aspek yang berkaitan dengan negara tersebut, mulai dari aspek politik, ekonomi, budaya, olahraga, dan (bahkan) kriminal pun serta merta akan maju. Begitu pula yang terjadi di negeri bar-bar, segala sesuatunya pun akan menjadi bar-bar. Dan tampaknya,
statement terakhir Pak Djatun berlaku di Indonesia. Betapa tidak, segala sesuatu yang terhubung dengan bangsa ini menghadirkan sebuah kesan yang buruk. Mulai dari sisi politik, ekonomi, bisnis, sosial, hingga olahraga. Tak terhitung lagi berapa kali kegagalan republik ini dalam mengarungi kehidupan.
Dari segi bisnis misalnya, dalam survey “Doing Business 2009″ yang dilakukan oleh International Finance Corporation baru-baru ini, Indonesia menempati urutan ke 129 dari 181 negara di dunia yang di survey dalam hal kemudahan mambangun dan menjalankan bisnis. Hal ini jauh dari pencapaian negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia yang masing-masing berada di peringkat 13 dan 20 dunia. Singapura? apa lacur, mereka justru berada di rangking 1 dunia. Diatas Selandia Baru dan Amerika Serikat. Peringkat selengkapnya bisa dilihat disini. Disinyalir, hal ini terjadi karena birokrasi di Indonesia yang jauh dari kata efisien dan sebuah peraturan tentang persyaratan modal disetor minimum yang tercantum dalam UU no 40/2007 tentang Perseroan Terbatas. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa persyaratan mendirikan usaha baru memerlukan dana minimum Rp 12,5 juta atau naik Rp 7,5 juta dari UU sebelumnya. Menurut Perwakilan IFC untuk Indonesia Adam Sack, aturan Indonesia ini lebih tinggi 100 persen dibandingkan Kawasan Asia. Di satu sisi hal ini memang sangat baik untuk meminimalisir resiko solvabilitas yang ada, namun disisi lain hal ini juga menghadirkan barrier to entry bagi para pengusaha “nanggung” yang memiliki modal pas-pasan untuk menjalankan bisnisnya. Maka, jangan heran jika sektor riil di Indonesia tidak berkembang seperti jalan tol.
Lalu dari sisi politik. Terus terang saya kurang suka membahas sisi yang satu ini. Bangsa ini masih bar-bar dalam hal berpolitik. Tidak ada kata elegan dan altruistik dalam kamus para politisi. Bahkan saya cenderung berpikir, bahwa orang yang mengambil jalur politik ini hanyalah orang-orang yang gagal di jalur profesional. Kejadian memalukan seperti insiden penyerangan sepihak karena kalah dalam bertarung sudah merupakan hal yang umum. Memang, sabda sang nabi besar John Forbes Nash alahis salam tentang Prisoner’s Dilemma menyebutkan bahwa kita tidak boleh percaya pada semua pihak. Namun apa jadinya jika setiap keputusan yang ditelurkan oleh sebuah instansi itu dianggap dipolitisasi? Coba anda lihat dua kasus terbaru dari Gus Dur dalam “sengketa PKB-nya”[1] dan Fraksi PDIP yang kalah dalam pilwagub Sumatra Selatan[2]. Mereka semua adalah contoh manusia katrok yang nggak bisa dengan lapang dada menerima kekalahan. Tidak ada lagi wajah pahlawan seperti Hillary Clinton yang justru mengakui kekalahannya dengan sportif dan malah membantu Barack Obama untuk menjadi calon presiden AS.
Dari sisi Olahraga lebih menjengkelkan lagi. Lihatlah, betapa “hebatnya” Indonesia ketika berhasil menjuarai Piala Kemerdekaan beberapa waktu lalu. Ya, jangankan untuk berprestasi, untuk sekedar bermain bagus dan sportif saja tidak bisa. Kerusuhan disana-sini, pelanggaran keras berupa tackling yang benar-benar mematikan masih sering terpampang di layar kaca. Belum lagi kelakuan si bangsat Nurdin Halid bersama (maaf) para anjing-anjing penjilatnya seperti Mafirion dan Nugraha Besoes di organisasi PSSI. Anda pasti sudah tahu bahwa sanga ketua PSSI Nurdin Halid masih memimpin PSSI meskipun sekarang ia tengan dipenjara akibat tersandung kasus penyulundupan gula impor ilegal, dan korupsi dana pengadaan minyak goreng juga impor beras Vietnam yang dilakukannya tahun 2004 lalu. FIFA sudah memperingatkan PSSI untuk segera mengganti ketuanya, namun apa daya, alih-alih mengganti sang puan, PSSI justru melakukan manuver untuk mempertahankan sang puan Nurdin di tampuk kepemimpinan. Kabar terbaru mengatakan bahwa puan bisa mengajukan diri lagi![3] Bayangkan, organisasi sebesar PSSI dipimpin oleh seorang narapidana. Bagaimana bisa maju ?
Dari sisi sosial dan hiburan, pengaruh sinetron di Indonesia sedemikian besarnya kepada jiwa anak-anak muda jaman sekarang. Saya memiliki tetangga seorang artis figuran, dia bahkan rela mengorbankan kuliahnya demi karier di dunia akting. Bukannya saya menyalahkan hal ini, tetapi opportunity cost yang besar dalam bentuk menuntut ilmu telah hilang. Coba anda lihat Cina dan Malaysia, mereka sangat concern terhadap perkembangan pendidikan. Tahun 90an awal, mereka masing-masing masih merupakan negara berkembang dan negara dunia ketiga. Sekarang? Mobilitas vertikal telah terjadi sedemikian cepatnya dalam dua negara tersebut. Yang justru menjadi negara dunia ketiga sekarang adalah Indonesia. Lihat saja, sinetron-sinetron katrok dan konyol justru laku keras di Indonesia, acara-acara yang mengandung unsur informasi malah kesulitan mencari iklan. Ya, kualitas acara yang ditonton memang mencerminkan kualitas penontonnya bukan? Harus diakui, bangsa ini menggunakan TV hanya untuk hiburan semata, tidak seperti bangsa Jerman maupun AS yang memposisikan TV sebagai sumber informasi.
Hmmm… sebenarnya masih banyak lagi kekecewaan saya terhadap bangsa ini yang jika saya tulis bakalan panjang sekali. Akhirnya saya mengerti, mengapa para cendekiawan selevel BJ Habibie tidak akan pernah tumbuh lagi di Indonesia. Sekali lagi, saya setuju dengan Pak Djatun, Jika sebuah negeri itu bar-bar, maka semua aspeknya juga akan menjadi bar-bar, dan itulah Indonesia. Huh, memang sulit menjadi manusia maju di Indonesia. Dan buat kakak saya yang sudah mulai kedinginan di Hamburg, “Akhirnya aku ngerti banget, mengapa sampean memilih istri dari Finlandia, hehehehe”
Salam,
[1] http://news.okezone.com/
[2] http://news.okezone.com/
[3] http://www.detiksport.com
Gambar diambil tanpa ijin dari Antobilang
Recent Comments