Suatu hari seorang teman bertanya kepada saya,
“Menurut lo, lebih tinggian mana kadar imannya, pencari tuhan dengan dalil-dalilnya yang sering ’salah’, pembela agama tuhan dengan ke’fasis’an mereka terhadap agamanya, ataukah pendakwah agama tuhan yang kental dengan logat arabnya?”. Sebuah pertanyaan retoris yang kita semua pasti tahu jawabannya. Saya tertegun, sedikit berpikir, dan lantas tertawa. Yang saya tahu, logat arab tak berhubungan dengan tingkat keimanan seseorang. Kalau toh ada, mungkin koefisien korelasinya tidak lebih besar dari angka 0.02 saja dengan standard deviasi yang cukup panjang jikalau sang data terdistribusi secara normal.
Tepat, saya sedang berbicara tentang sebuah sinetron penghasil ‘kapitalisasi pasar’ terbesar selama bulan ramadhan ini yaitu Para Pencari Tuhan (PPT). Seperti apa yang dibilang mas wiki, PPT adalah sinetron kuis (sinekuis) Ramadhan berdurasi 1,5 jam yang ditayangkan setiap hari selama bulan Ramadhan 1428 H di stasiun televisi SCTV saat waktu sahur, mulai pukul 02:30 WIB. Sinetron ini diproduksi oleh PT Demi Gisela Citra Sinema dan disutradarai oleh Deddy Mizwar. AG Nielsen mencatat sinetron ini disinyalir mampu menggerus market share 24,9 %. Satu hal yang wajar jika para pengiklan mengantri untuk mendapatkan spot iklan dalam acara tersebut. Bagi saya, dari pada mengiklan disaat prime time jam 7 sampai 9 malam, mendingan mengiklan pada saat sahur karena kemungkinan keluarga menonton televisi jauh lebih besar di bulan ramadhan ini.
Saya pribadi takjub dengan fenomena deretan iklan yang ada dalam sinetron yang ’sebenarnya’ cuma berdurasi ± 50 menit saja dari dua jam penayangannya di TV. Bayangkan, kalau perhitungan saya nggak salah, di setiap jeda segmen, ada sekitar 25 spot iklan. Jauh dibanding Cinta Fitri season 2 yang juga begitu sukses menggaet para pemasar untuk ‘menyumbang’ mereka. Cinta Fitri ‘hanya’ memiliki 15-17 spot iklan saja. Memang, saya adalah seorang fans berat Kang Deddy, karena si akang nyaris selalu berhasil menyuguhkan hiburan yang berkelas dan menarik bagi saya.
Lantas, mengapa acara ini begitu demikian suksesnya, hingga iklan pun rela berbaris layaknya kereta api argolawu? Jelas kekuatan mereka ada pada core produk-nya. Saya adalah seorang pembenci sinetron level akut karena bagi saya sinetron di Indonesia itu tak lebih dari sekedar tontonan hewan. Tapi PPT begitu berbeda. Apa yang membedakan PPT dengan sinetron-sinetron sampah lainnya yang begitu banyak beredar di TV?
Pertama adalah pada jalan ceritanya. Begini, kebanyakan sinetron di Indonesia sifatnya kejar tayang, sehingga skenario ceritanya pun ‘menodai’ tingkat artistik film itu sendiri. Contoh kecilnya adalah dalam film-film Rafi Ahmad, Velove Vexia atau si imut Baim. Begitu banyak adegan tidak penting yang tidak mempengaruhi isi cerita mondar-mandir di setiap scene-nya. Tujuan utamanya (menurut saya) adalah bukan untuk membuat cerita menjadi lucu, akan tetapi sekedar untuk memperpanjang episode saja. Nama terakhir akhir-akhir ini menjadi idola para sinetroners lebih karena wajah indonya yang imut, berhubung dia masih terlalu ‘junior’ untuk berakting.
Kedua pada isi dan pesan moral yang disampaikan dan tersampaikan. Mungkin para sutradara sinetron di Indonesia pada umumnya ingin menyampaikan pesan moral yang bagus dengan sedikit sentuhan humor. Tapi apa daya, justru penyimpangan yang terjadi terlalu besar. Bagi anda, yang tidak tinggal di Jakarta, saya memiliki pertanyaan. Apakah yang terlintas di benak anda jika saya menyebut frasa “anak jakarta”? Apakah terlintas di benak anda jika anak Jakarta itu hidupnya enak, konsumtif, gaul, trendy, stylist, dan banyak duit. Kalau memang itu yang ada, maka anda harus merehabilitasi diri anda karena virus sinetronicum telah mencapai stadium menengah (belum akut).

Coba kita lihat ke sinetron PPT. Justru pesan moral yang disampaikan (bagi saya) begitu mengena dan menyentuh. Pun pesan moral yang tersampaikan. Nyaris tidak ada unsur menggurui dalam cerita tersebut, meski terkadang tokoh Azzam (Agus Kuncoro) melakukannya. That’s it mereka mengajarkan islam dengan cara yang sederhana dan indah, tidak radikal, dan tak harus sweeping dan gebuk-gebukan setiap malam seperti apa yang dilakukan para laskar Front Preman Insyaf Pembela Islam. Tidak perlu terlalu banyak teori Al Qur’an yang diperlihatkan dalam berdakwah. Langsung saja ke prakteknya. Bagi saya, hal itu yang lebih menyentuh. Begitu pula dalam hal penyelesaian akhirnya. Mereka jauh lebih mengerti marketing management dalam berdakwah dibandingkan yang mulia Habib Rizieq cs yang… entahlah, saya malas mengatakannya.
Ketiga ada pada kekuatan karakter dari setiap tokoh. Bahasa gampangnya begini, setiap tokoh manusia dalam cerita tersebut benar-benar diberlakukan sebagai manusia, bukan malaikat yang selalu benar ataupun para iblis yang selalu jahat, meski tetap ada saja tokoh antagonis maupun semi-antagonis yang ‘ngeselin’ seperti Pak RW (yang juga merupakan gambaran birokrat di Indonesia), Pak Jalal ‘Jarwo Kwat’(gambaran perusahaan dan politikus di Indonesia yang selalu show-off dalam berbuat kebaikkan, maupun si Asrul (Asrul Dahlan) (si miskin yang terkadang keras kepala dan ber-ego tinggi). Hal ini sangat berbeda dengan sinetron di Indonesia lainnya yang pada umumnya memiliki tokoh yang sok baik, lembut, dan… pokoknya nyaris tanpa cela, serta tokoh yang jahatnya luar biasa. Bahkan kadar kejahatan sang tokoh biasanya bisa terlihat dari ekspresi muka yang sengaja dibuat licik.

Selain itu, satu hal yang paling saya suka disini adalah dimana peran tokoh utama yaitu Bang Jack (Deddy Mizwar), tidak terlalu sentral dan dominan. Sedikit berbeda dengan sinetron atau (bahkan) dorama Jepang. Coba anda lihat dorama Jepang (maaf), biasanya, tokoh utama sering show-off memberikan nasihat-nasihat secara direct yang rasa-rasanya justru terkesan bull shit, seperti dalam film Gokusen, My Boss My Hero, ataupun Shimokita Glory Days. Dan ketika sang tokoh tersebut memberikan ‘nasihat’ nya, pihak lain terpukau dan terdiam, seolah speechless dan tak bisa berkata apa-apa.
Keempat adalah pada gombalan mesranya. Jujur, saya sangat menyukai para tokoh dalam sinetron ini ketika mereka menggombal. Contohnya dalam dialog antara Ustadz Ferry (Akrie Patrio) dengan Istrinya, Haifa (Annisa Suci) dalam penggalan quote di bawah ini:
====
USTADZ FERRY
(Melihat istrinya yang terdiam sejenak, lantas berkata dengan nada seolah-olah panik)
“Hah, muka mama kenapa tuh, kok.”
HAIFA
(Agak kaget dan sedikit heran)
“Kenapa? nggak ada apa-apa kok. Papa nih kenapa sih?”
USTADZ FERRY
(Tersenyum dan mulai berekpresi genit)
“Nggak, muka mama kok kelihatan cantik banget ya.”
HAIFA
(Tersipu malu, muka sedikit memerah)
“Ah… papa..”
===
Setelah itu, saya hanya bisa berkata satu huruf saja dengan makhraj sedikit panjang, “O” Makhraj-nya pernah sedikit lebih panjang ketika mendengar bagaimana cara Azzam meminta maaf kepada Aya dalam PPT jilid 1 tahun lalu.
Itulah, setidaknya hal ini membuktikan bahwa bangsa ini masih menyukai sinetron yang memang diperuntukkan untuk manusia, bukan hewan. Memang, memerlukan waktu dan tenaga yang ekstra untuk membuatnya. Hanya saja, orang mungkin sudah tidak memiliki pilihan lain dalam berhibur. Hal ini terkadang menimbulkan pertanyaan pada diri saya, apakah telah terjadi ‘kartel‘ dalam hal membuat sinetron?
Salam,
Gambar PPT diambil dari sini
Gambar Gokusen diambil dari sini
Gambar si Bajaj diambil dari sini
Recent Comments